Entry: Singapura, Oktober 2009: Alkohol Wednesday, October 28, 2009



And what is good, Phaedrus,

And what is not good—

Need we ask anyone to tell us these things?

 

 

Lie Chen bangga atas kemandiriannya. Beberapa ribu dolar Singapura per bulan. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang memang tidak cukup berada, tapi cukup untuk membiayai dirinya sendiri dan hidup dalam sebuah apartemen mungil ukuran studio. Kabar yang tersiar di kalangan kawan-kawan kampusnya, ia tipikal perempuan yang cantik, tegas dan juga mandiri. Tipikal gadis favorit, di mana para lelaki menginginkannya tapi tak seorangpun yang berani mendekatinya justru karena kemandirian dan ketegasannya. Tapi tak heran juga apabila ia dan kawan-kawannya juga terpilih untuk mengurusi acara eksibisi internasional sebesar ini.

 

Satu malam di apartemennya, yang kudapati hanyalah sebuah apartemen yang tak berbeda dengan apartemen anak-anak muda lainnya. Sebuah kasur di salah satu sudut ruangan yang bersisian dengan jendela, yang mana selimut, sebuah hoody dan sebuah buku tergeletak di atasnya. Di atas karpet, tepat di bawah kasur, berserak beberapa CD, minuman kaleng yang telah kosong, beberapa majalah, pensil, kertas-kertas penuh catatan dan sketsa, serta buku... Vincent van Gogh, yang telah kusut dan tergeletak tak terurus di sebelah sofa warna khaki.

 

Aku mengambil tempat duduk di atas sofa tersebut. Ia meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Tak lama kemudian suara air terdengar mengucur deras dari shower. Sofa warna khaki. Vincent van Gogh. Tapi apabila van Gogh, seharusnya bukan sofa, melainkan sebuah kursi. Kursi, persis seperti kursi-kursi tradisional yang kita semua kenal. Empat kaki kayu dan sebuah sandaran kayu yang dipapas melingkar. Pada tempat duduknya, diletakkan sebuah bantalan yang lembut. Bisa busa, tapi yang lebih banyak dipilih adalah sebuah kain kaku yang diisi banyak kain perca. Kursi. Bukan sofa. Tak ada pipa dan sebungkus tembakau yang tergeletak di atas kursi itupun tak mengapa.

 

Sebuah kursi. Sebuah kursi kosong. Dan sebagaimana setiap kursi kosong tak menyediakan apapun selain menyisakan pertanyaan. Beberapa pertanyaan. Siapa yang duduk di situ? Di mana kursi itu berada? Mengapa kursi itu kosong?

 

Pertanyaan. Selalu pertanyaan. Pertanyaan selalu membutuhkan jawaban. Itu yang sulit. Jawaban seringkali membuat kita marah, sedih, kesal. Jawaban seringkali membuat kita ingin menghapuskan segalanya—seperti karat di atas besi. Tapi masalahnya, kita tak pernah dapat benar-benar menghapuskannya.

 

Pencarian akan jawaban, akan alasan, adalah sebuah aktivitas berbahaya. Aku tahu. Hal itu seperti berusaha mempereteli sebuah mekanika inspirasi, bukannya sekedar menganggap bahwa ada hal-hal magis yang sedang bekerja di luar kemampuan nalar kita. Para atheis dan materialis garis keras selalu mencari jawaban. Para religius menganggap semua hal telah dan menjadi demikian adanya, seperti sulap. Di Aceh, kala tsunami menerjang, sebuah mesjid masih berdiri tegak. Para religius berlutut dan mendongak. Ini bukti keberadaan Allah, kata mereka. Di Padang beberapa saat lalu, kala gempa menyerang dahsyat, sebuah minaret mesjid runtuh. Tapi kaum religius tak kehilangan akal, ada sebuah foto yang memperlihatkan betapa di langit awan berarak membentuk huruf arab yang terbaca Allah. Kala kita mempercayai sesuatu sepenuhnya, segala hal akan mengikuti nalar kita dan memperkuat kepercayaan kita. Segala hal akan menjadi bukti tentang apa yang kita percayai. Nalar kita bergerak dalam satu arus, dan dunia sekeliling mengikuti. Di seberang, para atheis mempercayai bahwa semua itu dapat dipecahkan dengan nalar manusia, dan bukan sesuatu yang magis.

 

Aku tahu. Dan aku juga tidak tahu. Tidak tahu apakah secara perlahan aku telah menjadi gila. Atau mungkin ini pengaruh minuman yang tadi kutenggak terlalu banyak. Aku jarang menenggak minuman mahal. Aku terlalu terbiasa dengan vodka murahan. Atau mungkin aku semakin gila—bukan sekedar menjadi gila. Siapa yang tahu? Aku tak dapat memberitahukannya. Tapi yang aku tahu, amatlah menenangkan rasanya apabila aku memiliki sebuah pisau di tangan dan menyayat sesuatu. Menyayat sofa misalnya.

 

Kursi. Dan bukannya sofa. Mengapa kursi dan bukan sofa? Karena Van Gogh menggambar kursi dan bukan sofa? Karena ia menempatkan pipa cangklong di atas kursi dan bukan di atas sofa? Bukan. Mungkin karena sofa membawaku pada sofa lain. Sofa yang mana? Di mana? Aku tak yakin. Aku sedang berusaha menggali ingatanku...

 

Jemari dari tangan-tangan masa lalu merayap dan menggapai ke permukaan—sebuah kota di Indonesia, negeri tetangga. Kosan. Nona Ishtar?

 

Aku tak dapat kembali ke sana. Tak bisa. Tak ingin. Oh, apa yang telah kuminum tadi?

 

Penyelamat, pecandu endorfin, penikmat kekosongan, orgasme, pencabut nyawa, penggorok leher dari tangan Tuhan dengan pisau buatan manusia. Oh, apa yang telah kulakukan? Ada hal-hal yang buruk. Aku tahu. Tapi menurutnya, aku baik, hangat, lembut dan dibalik bualan-bualanku aku hanya sekedar menyampaikan kejujuran yang pedih, yang menelanjangi orang-orang yang marah padaku, aku hanya berbicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti. Menurutnya, itu semua sekaligus bukti bahwa betapa kebaikan bersanding tipis dengan segala kejahatan dan keburukan. Itu yang ia katakan di kosan dengan sofa berwarna khaki, beberapa tahun lalu.

 

Aku tidak tahu. Menurutnya, setelah nyaris empat tahun lebih bersamaku atau setidaknya membangun kontak yang intim serta intens denganku, saat aku menunjuk kebohongan, mereka menganggap aku gila, karena yang berusaha kutunjuk adalah kejujuran dan kemuliaan. Mereka tertawa di mukaku, mentertawakan lawakanku. Tapi aku tidak melawak, hanya beberapa orang yang mengetahui apa yang kukatakan. Ia paham hal itu. Ia merangkul dan meremas pundakku, tanpa kata apapun. Menurutnya, maka itulah saat aku mulai membual, mengaburkan batas antara kenyataan dan fantasi, mencampuradukkan semuanya. Fakta menipu, karena ia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan selalu membenarkan pandangan tiap sudut yang berbeda satu sama lain. Fantasi, membawamu ke alam di mana tak ada benar dan salah. Apabila hidup adalah fiksi yang dibangun dengan darah dan daging, mengapa aku harus percaya pada fakta yang hanya berisi angin hampa?

 

Bukankah itu yang dikatakan oleh seni? Seni tak pernah berarti apapun selain hanya sekedar emosi yang dipahatkan pada kayu atau batu, digoreskan di atas kertas atau disapukan di atas kanvas dan kain, yang diambil dari udara yang menipis dan ditempatkan, tanpa ampun, di hadapan para audiens yang tak mengetahui apapun. Bagaimana ia diciptakan dan bagaimana ia dilihat—dua hal yang secara mutual tak berkaitan satu sama lain—sepenuhnya tergantung pada sudut pandang dan apa yang dipercayai. Dan penyatuan berbagai sudut pandang akan membentuk satu hal yang tak dapat diyakini kemiripannya dengan fakta yang dilihat masing-masing sudut pandang. Pablo Picasso menyadari hal ini.

 

Mereka seharusnya tidak percaya padamu begitu saja, ujarnya, tapi mereka harus melihat apa yang sesungguhnya berusaha kau sampaikan di baliknya. Apabila tidak, maka mereka hanya melihat dirimu sebagai pembawa masalah. Dan seperti halnya masalah, pembawanyapun harus disingkirkan.

 

Ia terus berkata-kata. Aku terus mendengarkan. Aku sendirian, ujarnya. Tak seorangpun mendengarkanku seperti dirimu yang membuka diri untukku, ujarnya lagi. Tak seorangpun. Mereka hanya mendengar musik yang berdengung di telinga mereka sendiri.

 

Engkau tahu mengapa orang-orang mengenakan earphone? Dan kini dengan adanya MP3 atau MP4 player, dengan ponsel yang dapat digunakan sebagai walkman, semakin banyak orang mengenakannya, bahkan seorang tentara yang kelelahan sehabis dari medan latihan yang kita lihat tempo hari? Ia terus berucap. Aku terus mendengar. Karena kita hanya menyukai dunia saat dunia menyuarakan hal-hal yang kita pilih untuk setujui dan dengarkan.

 

Apabila mereka tak mau mendengarku, mendengarmu, mengapa kita harus mendengar mereka? Tanyanya semakin sinis. Tapi apa guna telinga apabila ia tak dapat menerima kebijakan yang lain, yang berbeda? Masalahnya, aku hanya mendengarmu sekarang, ujarnya sambil duduk di dudukan tangan sofa berwarna khaki tersebut, sambil mengusap kepalaku lembut. Masalahnya, hanya engkau yang mendengarku selama ini. Selain dirimu, aku hanya seorang diri, ujarnya yang secara ironis ia ucapkan dengan senyuman. Kursi tersebut tetap kosong dan ia membiarkannya kosong.

 

Kursi itu tetap kosong. Walaupun kini seseorang meletakkan sebungkus tembakau dan pipa cangklong di salah satu sudutnya.

 

Pada musim dingin 1888, Vincent van Gogh hadir di selatan Perancis untuk melukis. Bulan Mei tahun berikutnya ia berada di rumah sakit jiwa dan sebelum musim panas berakhir, ia berhasil membunuh dirinya sendiri.

 

Di apartemen ini, suara shower telah berhenti dan menyisakan gemericik bunyi air yang mengalir ke saluran pembuangan. Aku merebahkan kepalaku di sofa berwarna khaki, kemudian menutup mataku. Tepat sebelum mataku tertutup, aku melihatnya keluar dari kamar mandi mungil tersebut dan tersenyum padaku. Aku menghela nafas, menutup mata sambil balas tersenyum. Aku tahu aku beruntung. Betapa tidak? Seberapa banyak dari kita yang masih hidup hingga kini, yang menutup hari dengan sebuah senyuman?

 

Malam hari yang beruntung. Tapi masalahnya, keesokan harinya, saat aku terbangun di pagi hari dan membuang dahak. Aku menemukan dahakku kental dan berwarna merah gelap kehitaman.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments