Entry: Singapura, Oktober 2009: Bintang di atas Bencoolen Friday, October 16, 2009



Starry, starry night.

Paint your palette blue and grey,

Look out on a summer's day,

With eyes that know the darkness in my soul.

–Don McLean, Vincent

 

 

"Do we really need to be alone sometimes?"

 

Aku menoleh menatapnya. Setelah sekian detik yang terasa hening, mendadak ia mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang mendadak, tapi terasa lekat dengan hening yang senyap, yang mengungkung di sekitar kami. Aku hanya mendehem, dan kembali aku mengarahkan mataku pada bintang-bintang yang ramai gemerlap di atas sana.

 

"So why do you think people treated it just like a disease nowadays? They called it autism, they called it anti-social behaviour, anything bad..."

 

Aku tak berkomentar sama sekali.

 

"For fuck sake, some people just want to be alone."

 

Aku masih terdiam. Tapi pikiranku melayang kemana-mana akibat pernyataan-pernyataan mendadaknya yang tiba-tiba.

 

"Oh I'm sorry. I think you just wanna be silent..."

 

Aku menoleh. Ia tersenyum. Di bawah kami, jalanan masih ramai. Teramat kontras dengan langit malam yang begitu tenang.

 

 

-1-

 

Saat aku baru saja datang dengan menggunakan taksi dari bandara dan sibuk mengurus kartu untuk akses masuk ke dalam convention center, aku melihat perempuan muda itu begitu atraktif. Entahlah, mungkin kata atraktif kurang tepat. Mungkin lebih tepat kusebut saja ia enerjik. Perempuan ini jelas memiliki darah Cina. Bermata sipit, ia mengenakan kacamata berbingkai hitam yang kontras dengan warna kulit wajahnya yang begitu pucat. DI antara kawan-kawannya yang lain, ia memang tampak berbeda. Dengan topi porkpie hat di kepalanya, jaket hitam dan celana hitam, serta Doc Martens hitam 10 eyes yang tampak telah lusuh, ia sibuk bergerak ke sana kemari dengan walkie talkie  di genggamannya.

 

Aku hanya berdiri menatapnya, mengikuti dirinya kemanapun ia bergerak. Sosoknya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal dan kini jauh dari tempatku berada. Gerak-geriknya, proporsi tubuhnya, caranya berbicara–walaupun perempuan ini mengenakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya, sementara aku nyaris tak pernah mendengar seseorang yang kusebut tadi berbicara bahasa Inggris.

 

Dalam hati aku bertanya, bagaimana mungkin perempuan ini bisa sedemikian mirip?

 

*****

 

Hari pertama di negeri tersebut berlalu dengan teramat melelahkan. Beberapa kali perempuan tersebut berjalan melewati tempatku menata berbagai peralatan, tapi aku tak tahu bagaimana aku harus menyapa agar dapat sekedar berbincang atau berkenalan dengannya.

 

Beberapa kali, lima orang perempuan muda lain, yang juga sama-sama berpakaian hitam-hitam dan di leher mereka tergantung kartu tanda pengenal berwarna merah, berhenti di tempatku dan membawakanku makanan dan minuman. Aku menyapa mereka, sedikit berkelakar dan mereka tersenyum. Seorang di antaranya tidak terlalu memperhatikan ucapanku, ia malah sibuk menatap lekat sebuah lukisan cat minyak berwarna hijau biru terang dengan gambar wajah seorang bayi yang berada di balik kaca yang basah.

 

"How much this picture?' tanyanya sambil menatapku sepintas.

 

Kawanku yang berdiri di sebelahku menyebutkan sebuah harga. Perempuan ini tersenyum dan meringis, "I just have 100. Could you let me take this with me?"

 

"I'll give it to you for free if it's mine. The painting is beautiful, so it should be belong to a beautiful people," ujarku pendek, "Alas, it's not mine."

 

"Hey, are you a painter?"

 

"I can paint, but I'm not a painter."

 

Dia tersenyum dan mengulurkan tangan, "Name is Joy."

 

Aku melirik sepatunya. Doc Martens. Hmm, mungkinkah perempuan-perempuan muda di sini mengenakan Doc Martens sebagai bagian dari gaya berpakaian mereka sehari-hari? Menarik...

 

 

-2-

 

Sesiangan di hari kedua, aku masih sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapan yang terus terang banyak terlupa. Aku harus bolak balik turun ke lantai dasar untuk membeli berbagai hal, mulai dari paper tape hingga ballpoint. Bahkan satu kali aku harus menggunakan taksi pergi mengunjungi toko yang terletak sekitar 4 km dari gedung tempatku berada, hanya untuk membeli cairan pembersih mobil dan lem super glue. Melelahkan memang, tapi tak terlalu terasa, apalagi dengan kehadiran Joy yang sering mampir ke tempatku dan sesekali menyempatkan diri berbincang di sela-sela kesibukannya. Tak sekalipun aku sempat berpikir tentang si perempuan tomboy bersepatu Doc Martens di gedung convention center.

 

Beberapa orang berkata bahwa nyaris segala hal berkaitan erat dengan kemungkinan dan juga kesempatan. Mungkin memang aku belum mendapatkan kesempatan yang tepat. Sepanjang sore hingga malam hari, aku melihatnya lewat beberapa kali. Ia masih tampak sibuk. Sangat sibuk.

 

 

-3-

 

Everytime I see you something happens to me

Like a chain reaction between you and me

My heart starts missing a beat

My heart starts missing a beat

Everytime

Pet Shop Boys, Heart

 

 

Akhirnya kesempatan yang kutunggu datang tanpa kuduga.

 

Aku memotret sebuah grup musisi yang membawakan sebuah musik klasik di acara pembukaan eksibisi internasional ini. Beberapa kali aku mengganti sudut pandangku demi mendapatkan komposisi yang tepat. Mungkin terlalu sering, hingga akhirnya saat grup musik tersebut selesai memainkan nada-nadanya, seseorang dari antara mereka menghampiriku dengan menyodorkan sebuah kartu nama.

 

"If it's okay, please send us the pictures of us that you've taken already. I'll put a credit for sure."

 

Aku menerima kartu namanya sambil tersenyum, seraya berkata, "Perhaps my pictures are not as good as you expect. But I promise I'll send you then."

 

Lelaki yang sopan dan rapi tersebut membungkukkan badan sambil tersenyum. Ia lantas berjalan menuju seseorang di sebelahku, "Of course I would like you to do the same for us, miss..."

 

Aku menoleh ke sebelahku dan mendadak nafasku berhenti. Sang perempuan tomboy itu sedari tadi berdiri di sebelahku. Ia juga menggenggam sebuah Nikon.

 

Sungguh, jantungku terasa berhenti berdegup.

 

 

 

"Excuse me. Are you a professional photographer?"

 

Perempuan tomboy ini menatap lurus pada mataku. Aku semakin gugup. Kameraku tergantung di leherku, jadi ia tak akan terjatuh walaupun tanganku tak sengaja melepaskan pegangan. Tak hanya tangan, kakiku juga terasa berhenti menjejak tanah.

 

"Are you okay?"

 

Mendadak aku terkesiap. "Oh I'm okay, thank you. I was just drifting..."

 

Ia meringis. "So, are you a professional photographer?"

 

"I'm not, but I can take good enough pictures. Think you can do it better than me. If you do, may I have some, so I can send that guy a good picture of his group?"

 

Ia tertawa kecil, "Actually, I've been thinking the same."

 

Kami berdua tertawa-tawa. Sebuah gunung es yang terbangun di antara kami kini mulai meleleh.

 

"So why not we check each other shots? So we would know whose pictures are worst. C'mon, let's get to the cafe," ujarnya sambil melangkah ringan.

 

 

-4-

 

"Actually I don't really like walking around from mall to mall. It kinda make me bored," ujarnya mengeluh. Ia lantas memasukkan beberapa uang receh ke dalam mesin berisi minuman kaleng. Tak lama, sebuah bunyi kaleng bertumbukan dengan logam terdengar. Ia sedikit membungkuk, meraih sekaleng Coca Cola.

 

"I'm sorry, but I rarely have a time to come down here, so this is my chance to find someplace that sell Doc Martens," ujarku seraya duduk di sebelahnya. "Anyway, it's far more cheaper down here."

 

Ia memandangku sambil memonyongkan bibirnya. "You told me that you'll buy it for your wife, rite?"

 

Aku hanya mengangguk.

 

"How old are you when you're married?"

 

...dan mulailah ia memintaku mengisahkan tentang hidupku, pernikahanku, anakku. Pandangan-pandanganku tentang hidup, tentang aktivitas, tentang musik, tentang sebuah generasi.

 

"You are far more older than me. We have a lot more differences as we live in the different generation. You are raised up in the era where internet and cellphone haven't exsist as today," ujarnya sambil meneguk minuman kaleng tersebut sedikit demi sedikit.

 

Perempuan pintar. Mendadak pikiranku melayang jauh. Menyeberangi samudera. Aku tercenung agak lama. Seperti kataku, perempuan ini mengingatkanku pada seseorang di seberang sana...

 

"You have to fight to have an identity, rite?"

 

Aku mengangguk. Aku masih tak mengerti arah pembicaraannya.

 

"...and here I am. I don't have to fight to have an identity. In my generation, identity is not something that can not be reach without a fight. It's merely given. We never learn to fight for ourselves and in the end, we never know who we really are..."

 

Aku tak banyak merespon. Ia tampaknya sekedar mengeluarkan pandangan personalnya mengenai generasinya, mengenai lingkungannya, mengenai kehidupan anak-anak muda yang kehilangan akar di tempat yang konon menjadi kota paling teratur di Asia Tenggara. Baginya, generasinya tak membutuhkan identitas khusus. Mereka dapat beradaptasi dengan sangat fleksibel. Identitas merekapun dapat berganti-ganti dengan cepat, tergantung di mana sang individu berada. Seseorang dapat memiliki akun di Facebook dan membangun identitasnya sendiri yang berbeda dari identitas di tempat kerjanya. Seseorang juga dapat menjadi seorang pelayan toko saat dalam momen yang berdekatan ia juga adalah seorang pembalap jalanan. Semuanya campur aduk, dan bergerak dengan begitu cepat, berkelindan demikian rumit, hingga akhirnya tak ada lagi identitas tentang siapakah sang individu. Generasi yang terlalu toleran, yang menerima apapun, hingga nyaris tak lagi memiliki apapun untuk diyakini. Kehidupan menjadi begitu eksis hanya dalam konteks kekinian dan kesementaraan saja.

 

"We don't really know, who we really are," ujarnya sambil menatap langit, "and it's kinda sad. Especially for me. Trust me, this city is depressing..."

 

Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan. Dengan komentarnya, dengan depresinya yang seakan dipendam agar tak pernah nampak di permukaan, ia malah semakin membuatku teringat pada seseorang...

 

 

-5-

 

Kami berdua berdiri menatap langit malam yang bersih tanpa awan. Dalam ketinggian seperti ini, suara kendaraan yang lalu lalang di bawah kami sama sekali tak mengganggu. Gedung apartemen ini memiliki atap datar seluas kira-kira tiga kali lapangan basket, sehingga kami dapat berjalan-jalan di atasnya ke sana kemari.

 

"It's kinda funny to sleep in the same bed with someone without touching each other."

 

Kami memang berada dalam satu ranjang semenjak beberapa jam lalu, sebelum aku tertidur dan ia membangunkanku untuk naik ke atap gedung apartemennya. Kami memang tak saling menyentuh, tak saling berusaha berhubungan fisik, walaupun aku harus akui bahwa aku menikmati atmosfer dan reaksi kimia yang terjadi di antara kami berdua. Aku menikmati suasana yang membuatku merasa begitu relaks. Aku menatapnya sedikit dan meringis, "Is that the reason you want me here, in this roof?"

 

Perempuan Cina berambut pendek ini menggeleng pelan, "I can't sleep and I love to talk to you, because you're a stranger. We don't have any responsibility at all to each other. You'll go back to your country in the next few days and we'll forget anything we ever talk at each other. We don't know each other and we'll never know bout each other. But the irony is, I kinda feel free."

 

Di balik penampilannya, apa yang aku tahu hanyalah bahwa ia menyembunyikan sebuah luka, salah sebuah harga dari keteraturan dan disiplin yang diterapkan di tengah masyarakat yang nyaris tak lagi mengenal emosi. Dan kini, ia tak lagi tampak seperti yang kulihat di hari pertama kedatanganku kemari–seorang perempuan yang enerjik dan tampak riang. Kini, di dekatku, seorang yang asing baginya, ia tampak begitu rapuh.

 

Aku hanya diam dan mengambil posisi duduk tak jauh dari tempatnya duduk dengan kaki tergantung-gantung bebas di udara. Mobil-mobil yang lewat di bawah kami tampak jauh lebih kecil dari ukuran kaki kami. Suara-suara begitu samar terdengar. Di sini, di atas sini, apa yang terdengar hanyalah suara hembusan angin malam...

 

Di langit, bintang-bintang berkedip bergantian. Mungkin bintang-bintang tersebut juga merasa asing satu sama lain...

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments