Wednesday, October 28, 2009
Singapura, Oktober 2009: Alkohol

And what is good, Phaedrus,

And what is not good—

Need we ask anyone to tell us these things?

 

 

Lie Chen bangga atas kemandiriannya. Beberapa ribu dolar Singapura per bulan. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang memang tidak cukup berada, tapi cukup untuk membiayai dirinya sendiri dan hidup dalam sebuah apartemen mungil ukuran studio. Kabar yang tersiar di kalangan kawan-kawan kampusnya, ia tipikal perempuan yang cantik, tegas dan juga mandiri. Tipikal gadis favorit, di mana para lelaki menginginkannya tapi tak seorangpun yang berani mendekatinya justru karena kemandirian dan ketegasannya. Tapi tak heran juga apabila ia dan kawan-kawannya juga terpilih untuk mengurusi acara eksibisi internasional sebesar ini.

 

Satu malam di apartemennya, yang kudapati hanyalah sebuah apartemen yang tak berbeda dengan apartemen anak-anak muda lainnya. Sebuah kasur di salah satu sudut ruangan yang bersisian dengan jendela, yang mana selimut, sebuah hoody dan sebuah buku tergeletak di atasnya. Di atas karpet, tepat di bawah kasur, berserak beberapa CD, minuman kaleng yang telah kosong, beberapa majalah, pensil, kertas-kertas penuh catatan dan sketsa, serta buku... Vincent van Gogh, yang telah kusut dan tergeletak tak terurus di sebelah sofa warna khaki.

 

Aku mengambil tempat duduk di atas sofa tersebut. Ia meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Tak lama kemudian suara air terdengar mengucur deras dari shower. Sofa warna khaki. Vincent van Gogh. Tapi apabila van Gogh, seharusnya bukan sofa, melainkan sebuah kursi. Kursi, persis seperti kursi-kursi tradisional yang kita semua kenal. Empat kaki kayu dan sebuah sandaran kayu yang dipapas melingkar. Pada tempat duduknya, diletakkan sebuah bantalan yang lembut. Bisa busa, tapi yang lebih banyak dipilih adalah sebuah kain kaku yang diisi banyak kain perca. Kursi. Bukan sofa. Tak ada pipa dan sebungkus tembakau yang tergeletak di atas kursi itupun tak mengapa.

 

Sebuah kursi. Sebuah kursi kosong. Dan sebagaimana setiap kursi kosong tak menyediakan apapun selain menyisakan pertanyaan. Beberapa pertanyaan. Siapa yang duduk di situ? Di mana kursi itu berada? Mengapa kursi itu kosong?

 

Pertanyaan. Selalu pertanyaan. Pertanyaan selalu membutuhkan jawaban. Itu yang sulit. Jawaban seringkali membuat kita marah, sedih, kesal. Jawaban seringkali membuat kita ingin menghapuskan segalanya—seperti karat di atas besi. Tapi masalahnya, kita tak pernah dapat benar-benar menghapuskannya.

 

Pencarian akan jawaban, akan alasan, adalah sebuah aktivitas berbahaya. Aku tahu. Hal itu seperti berusaha mempereteli sebuah mekanika inspirasi, bukannya sekedar menganggap bahwa ada hal-hal magis yang sedang bekerja di luar kemampuan nalar kita. Para atheis dan materialis garis keras selalu mencari jawaban. Para religius menganggap semua hal telah dan menjadi demikian adanya, seperti sulap. Di Aceh, kala tsunami menerjang, sebuah mesjid masih berdiri tegak. Para religius berlutut dan mendongak. Ini bukti keberadaan Allah, kata mereka. Di Padang beberapa saat lalu, kala gempa menyerang dahsyat, sebuah minaret mesjid runtuh. Tapi kaum religius tak kehilangan akal, ada sebuah foto yang memperlihatkan betapa di langit awan berarak membentuk huruf arab yang terbaca Allah. Kala kita mempercayai sesuatu sepenuhnya, segala hal akan mengikuti nalar kita dan memperkuat kepercayaan kita. Segala hal akan menjadi bukti tentang apa yang kita percayai. Nalar kita bergerak dalam satu arus, dan dunia sekeliling mengikuti. Di seberang, para atheis mempercayai bahwa semua itu dapat dipecahkan dengan nalar manusia, dan bukan sesuatu yang magis.

 

Aku tahu. Dan aku juga tidak tahu. Tidak tahu apakah secara perlahan aku telah menjadi gila. Atau mungkin ini pengaruh minuman yang tadi kutenggak terlalu banyak. Aku jarang menenggak minuman mahal. Aku terlalu terbiasa dengan vodka murahan. Atau mungkin aku semakin gila—bukan sekedar menjadi gila. Siapa yang tahu? Aku tak dapat memberitahukannya. Tapi yang aku tahu, amatlah menenangkan rasanya apabila aku memiliki sebuah pisau di tangan dan menyayat sesuatu. Menyayat sofa misalnya.

 

Kursi. Dan bukannya sofa. Mengapa kursi dan bukan sofa? Karena Van Gogh menggambar kursi dan bukan sofa? Karena ia menempatkan pipa cangklong di atas kursi dan bukan di atas sofa? Bukan. Mungkin karena sofa membawaku pada sofa lain. Sofa yang mana? Di mana? Aku tak yakin. Aku sedang berusaha menggali ingatanku...

 

Jemari dari tangan-tangan masa lalu merayap dan menggapai ke permukaan—sebuah kota di Indonesia, negeri tetangga. Kosan. Nona Ishtar?

 

Aku tak dapat kembali ke sana. Tak bisa. Tak ingin. Oh, apa yang telah kuminum tadi?

 

Penyelamat, pecandu endorfin, penikmat kekosongan, orgasme, pencabut nyawa, penggorok leher dari tangan Tuhan dengan pisau buatan manusia. Oh, apa yang telah kulakukan? Ada hal-hal yang buruk. Aku tahu. Tapi menurutnya, aku baik, hangat, lembut dan dibalik bualan-bualanku aku hanya sekedar menyampaikan kejujuran yang pedih, yang menelanjangi orang-orang yang marah padaku, aku hanya berbicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti. Menurutnya, itu semua sekaligus bukti bahwa betapa kebaikan bersanding tipis dengan segala kejahatan dan keburukan. Itu yang ia katakan di kosan dengan sofa berwarna khaki, beberapa tahun lalu.

 

Aku tidak tahu. Menurutnya, setelah nyaris empat tahun lebih bersamaku atau setidaknya membangun kontak yang intim serta intens denganku, saat aku menunjuk kebohongan, mereka menganggap aku gila, karena yang berusaha kutunjuk adalah kejujuran dan kemuliaan. Mereka tertawa di mukaku, mentertawakan lawakanku. Tapi aku tidak melawak, hanya beberapa orang yang mengetahui apa yang kukatakan. Ia paham hal itu. Ia merangkul dan meremas pundakku, tanpa kata apapun. Menurutnya, maka itulah saat aku mulai membual, mengaburkan batas antara kenyataan dan fantasi, mencampuradukkan semuanya. Fakta menipu, karena ia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan selalu membenarkan pandangan tiap sudut yang berbeda satu sama lain. Fantasi, membawamu ke alam di mana tak ada benar dan salah. Apabila hidup adalah fiksi yang dibangun dengan darah dan daging, mengapa aku harus percaya pada fakta yang hanya berisi angin hampa?

 

Bukankah itu yang dikatakan oleh seni? Seni tak pernah berarti apapun selain hanya sekedar emosi yang dipahatkan pada kayu atau batu, digoreskan di atas kertas atau disapukan di atas kanvas dan kain, yang diambil dari udara yang menipis dan ditempatkan, tanpa ampun, di hadapan para audiens yang tak mengetahui apapun. Bagaimana ia diciptakan dan bagaimana ia dilihat—dua hal yang secara mutual tak berkaitan satu sama lain—sepenuhnya tergantung pada sudut pandang dan apa yang dipercayai. Dan penyatuan berbagai sudut pandang akan membentuk satu hal yang tak dapat diyakini kemiripannya dengan fakta yang dilihat masing-masing sudut pandang. Pablo Picasso menyadari hal ini.

 

Mereka seharusnya tidak percaya padamu begitu saja, ujarnya, tapi mereka harus melihat apa yang sesungguhnya berusaha kau sampaikan di baliknya. Apabila tidak, maka mereka hanya melihat dirimu sebagai pembawa masalah. Dan seperti halnya masalah, pembawanyapun harus disingkirkan.

 

Ia terus berkata-kata. Aku terus mendengarkan. Aku sendirian, ujarnya. Tak seorangpun mendengarkanku seperti dirimu yang membuka diri untukku, ujarnya lagi. Tak seorangpun. Mereka hanya mendengar musik yang berdengung di telinga mereka sendiri.

 

Engkau tahu mengapa orang-orang mengenakan earphone? Dan kini dengan adanya MP3 atau MP4 player, dengan ponsel yang dapat digunakan sebagai walkman, semakin banyak orang mengenakannya, bahkan seorang tentara yang kelelahan sehabis dari medan latihan yang kita lihat tempo hari? Ia terus berucap. Aku terus mendengar. Karena kita hanya menyukai dunia saat dunia menyuarakan hal-hal yang kita pilih untuk setujui dan dengarkan.

 

Apabila mereka tak mau mendengarku, mendengarmu, mengapa kita harus mendengar mereka? Tanyanya semakin sinis. Tapi apa guna telinga apabila ia tak dapat menerima kebijakan yang lain, yang berbeda? Masalahnya, aku hanya mendengarmu sekarang, ujarnya sambil duduk di dudukan tangan sofa berwarna khaki tersebut, sambil mengusap kepalaku lembut. Masalahnya, hanya engkau yang mendengarku selama ini. Selain dirimu, aku hanya seorang diri, ujarnya yang secara ironis ia ucapkan dengan senyuman. Kursi tersebut tetap kosong dan ia membiarkannya kosong.

 

Kursi itu tetap kosong. Walaupun kini seseorang meletakkan sebungkus tembakau dan pipa cangklong di salah satu sudutnya.

 

Pada musim dingin 1888, Vincent van Gogh hadir di selatan Perancis untuk melukis. Bulan Mei tahun berikutnya ia berada di rumah sakit jiwa dan sebelum musim panas berakhir, ia berhasil membunuh dirinya sendiri.

 

Di apartemen ini, suara shower telah berhenti dan menyisakan gemericik bunyi air yang mengalir ke saluran pembuangan. Aku merebahkan kepalaku di sofa berwarna khaki, kemudian menutup mataku. Tepat sebelum mataku tertutup, aku melihatnya keluar dari kamar mandi mungil tersebut dan tersenyum padaku. Aku menghela nafas, menutup mata sambil balas tersenyum. Aku tahu aku beruntung. Betapa tidak? Seberapa banyak dari kita yang masih hidup hingga kini, yang menutup hari dengan sebuah senyuman?

 

Malam hari yang beruntung. Tapi masalahnya, keesokan harinya, saat aku terbangun di pagi hari dan membuang dahak. Aku menemukan dahakku kental dan berwarna merah gelap kehitaman.

Posted at 10:46 pm by perangdancinta
Make a comment  

Sunday, October 25, 2009
Singapura, Oktober 2009: Mega Machine, Surveillance City

“Only the machine who has no heart, no feelings and emotions. That’s what make us, human, different.”

—John Connor, Terminator 4

 

“When you let the machines take control almost all parts of your life, you’ll lost your humanity. Gradually, you’ll become one of them.”

—Green Anarchy

 

 

Mekanis, adalah kata yang kupikir cukup tepat untuk menggambarkan mayoritas penduduk Singapura—setidaknya mereka yang kujumpai di jalanan. Betapa tidak, pada satu malam yang cukup sepi, saat aku sedang berjalan bersama kawan baruku di sana dan hendak menyeberang jalan, apa yang kulihat memperkuat asumsi awalku tersebut. Jalanan begitu sepi, tak ada satupun mobil yang lewat kala beberapa orang—termasuk kami berdua—berdiri di hadapan zebra cross, bersiap hendak menyeberang. Lampu bagi pejalan kaki menyala merah, tanda bagi para penyeberang untuk berhenti dan tak diijinkan untuk menyeberang hingga lampu menyala hijau. Aku menengok ke kiri dan ke kanan. Tak ada mobil hendak melintas sejauh mataku memandang. Aku menggamit kawanku untuk menyeberang. Kami menyeberang, tiba di seberang jalan dengan baik-baik saja. Masih tak ada mobil yang lewat. Tapi apa yang membuat diriku agak heran, adalah saat aku menoleh. Di seberang jalan tempat kami berdiri tadi, masih ada sekitar empat orang lainnya yang tak juga menyeberang padahal jalanan demikian lengang. Lampu masih menyala merah, dan mereka menunggu untuk berganti hijau.

 

Aku menepuk pundak kawanku, menunjuk orang-orang di seberang jalan dengan daguku. Ia tersenyum, “They’re waiting for the green light.

 

Aku meringis. Aku tahu mereka menunggu lampu menyala hijau. Tapi kala jalanan yang lurus ini demikian lengang dan kita akan dapat melihat mobil—walaupun dalam kecepatan tinggi—yang mungkin tiba-tiba muncul di batas pandang kita? Aku ragu, apakah lampu hijau tersebut, sebagai sebuah mekanisme yang melayani kita, ataukah kita yang melayani mekanisme tersebut. Kota ini memang teratur, sedemikian teraturnya hingga aku sulit membedakan manusia dan mesin.

 

Di negeri di mana segalanya tertata dengan sedemikian rapi, mekanis dan otomatis. Untuk mengendarai MRT (Monorail train) engkau tak lagi berhadapan dengan manusia, engkau hanya berhadapan dengan mesin yang akan memberimu tiket dan akan memproses pembayaranmu. Engkau tak boleh melakukan hal-hal yang tak diijinkan oleh sistem dan engkau tak dapat melanggarnya—betapa tidak, di banyak tempat engkau akan menemui tanda bertuliskan “This area is under surveillance”. Sedikit menengok ke atas dan teliti memperhatikan sudut-sudut gedung, apa yang akan engkau temukan adalah CCTV. Jacob, seorang kawanku di Jakarta yang awalnya begitu mengagumi Singapura, membantah keluhanku soal negeri tersebut yang penuh dengan mata yang mengawasi, dengan berkata, “Enggak semua tempat kok diawasi CCTV, cuman daerah-daerah perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah sama apartemen dan jalan-jalan besar aja.” Aku berpikir keras, lantas tempat apa yang tersisa saat di sana nyaris semua tempat adalah kawasan perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah dan apartemen. Tersisa toilet mungkin?

 

Mungkin memang toilet. Di sebuah toilet di sebelah Kopitiam, sebuah lokasi jajanan 24 jam, aku menemui toilet yang tak jauh berbeda dengan toilet umum di Jakarta. penuh tissue, beberapa keran air tak berfungsi, dan aroma air kencing yang tak disiram memenuhi ruangan.

 

“Mentalitas mereka yang emang beda banget ma kita. Mereka bisa tertib karna mereka memang ngebiasain idup tertib dan ketata rapih,” ujar boss-ku mengenai Singapura. Boss yang selalu tidur di hotel, tak terlalu banyak berkomunikasi dengan penduduk setempat selain hanya rekan-rekan bisnisnya. Boss yang pernah berulang kali menjajaki Singapura untuk bekerja atau berbelanja di mall-mallnya, yang selalu bepergian dengan menggunakan taksi. Aku menyangsikan ucapannya, walaupun aku mengangguk mengiyakan saat ia berkomentar. Mungkin ia memang belum pernah memasuki toilet Kopitiam. Mungkin ia memang tak pernah terlibat pembicaraan yang lebih intim seperti yang kulakukan bersama Lie Chen dan Joy, selain urusan bisnis atau wisata turisme.

 

Saat aku menghabiskan beberapa malam setiap kali aku pulang dari pekerjaanku bersama seorang gadis Cina kawan baruku, berjalan-jalan menyusuri Singapura, aku tak dapat menahan riang perasaanku saat aku melihat sebuah grafiti ilegal di sebuah dinding tak jauh dari Plaza Singapore. Aku teringat pada komentar boss-ku. Mentalitas katanya? Menurutku ini bukan persoalan mengenai mentalitas, ini adalah persoalan panoptikon. Aku yakin, di lokasi dinding di mana grafiti kutemukan, pasti keberadaan CCTV amat minim.

 

Maka, saat Jacob bertanya padaku mengenai pendapatku seputar Singapura, aku hanya menjawab, bahwa kota tersebut memang bersih, nyaman, teratur, tapi nyaris tanpa emosi karena segalanya terlalu mekanik. Aku nyaris tak merasakan emosi di sana, semua terlalu datar bagiku. Singapura memang surga belanja bagi para konsumen—aku menemukan harga Doc Martens dan komik yang jauh lebih murah daripada harga di Jakarta. Negeri ini nyaman untuk disinggahi sesekali, sebagai selingan bagi orang-orang yang terbiasa hidup di kota yang kotor dan kacau balau seperti Jakarta. Tapi untuk menjadi penduduk tetap di sini? Mungkin tidak, ini bukan tempat bagi orang-orang sepertiku.

Posted at 05:14 pm by perangdancinta
Make a comment  

Friday, October 16, 2009
Singapura, Oktober 2009: Bintang di atas Bencoolen

Starry, starry night.

Paint your palette blue and grey,

Look out on a summer's day,

With eyes that know the darkness in my soul.

–Don McLean, Vincent

 

 

"Do we really need to be alone sometimes?"

 

Aku menoleh menatapnya. Setelah sekian detik yang terasa hening, mendadak ia mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang mendadak, tapi terasa lekat dengan hening yang senyap, yang mengungkung di sekitar kami. Aku hanya mendehem, dan kembali aku mengarahkan mataku pada bintang-bintang yang ramai gemerlap di atas sana.

 

"So why do you think people treated it just like a disease nowadays? They called it autism, they called it anti-social behaviour, anything bad..."

 

Aku tak berkomentar sama sekali.

 

"For fuck sake, some people just want to be alone."

 

Aku masih terdiam. Tapi pikiranku melayang kemana-mana akibat pernyataan-pernyataan mendadaknya yang tiba-tiba.

 

"Oh I'm sorry. I think you just wanna be silent..."

 

Aku menoleh. Ia tersenyum. Di bawah kami, jalanan masih ramai. Teramat kontras dengan langit malam yang begitu tenang.

 

 

-1-

 

Saat aku baru saja datang dengan menggunakan taksi dari bandara dan sibuk mengurus kartu untuk akses masuk ke dalam convention center, aku melihat perempuan muda itu begitu atraktif. Entahlah, mungkin kata atraktif kurang tepat. Mungkin lebih tepat kusebut saja ia enerjik. Perempuan ini jelas memiliki darah Cina. Bermata sipit, ia mengenakan kacamata berbingkai hitam yang kontras dengan warna kulit wajahnya yang begitu pucat. DI antara kawan-kawannya yang lain, ia memang tampak berbeda. Dengan topi porkpie hat di kepalanya, jaket hitam dan celana hitam, serta Doc Martens hitam 10 eyes yang tampak telah lusuh, ia sibuk bergerak ke sana kemari dengan walkie talkie  di genggamannya.

 

Aku hanya berdiri menatapnya, mengikuti dirinya kemanapun ia bergerak. Sosoknya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal dan kini jauh dari tempatku berada. Gerak-geriknya, proporsi tubuhnya, caranya berbicara–walaupun perempuan ini mengenakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya, sementara aku nyaris tak pernah mendengar seseorang yang kusebut tadi berbicara bahasa Inggris.

 

Dalam hati aku bertanya, bagaimana mungkin perempuan ini bisa sedemikian mirip?

 

*****

 

Hari pertama di negeri tersebut berlalu dengan teramat melelahkan. Beberapa kali perempuan tersebut berjalan melewati tempatku menata berbagai peralatan, tapi aku tak tahu bagaimana aku harus menyapa agar dapat sekedar berbincang atau berkenalan dengannya.

 

Beberapa kali, lima orang perempuan muda lain, yang juga sama-sama berpakaian hitam-hitam dan di leher mereka tergantung kartu tanda pengenal berwarna merah, berhenti di tempatku dan membawakanku makanan dan minuman. Aku menyapa mereka, sedikit berkelakar dan mereka tersenyum. Seorang di antaranya tidak terlalu memperhatikan ucapanku, ia malah sibuk menatap lekat sebuah lukisan cat minyak berwarna hijau biru terang dengan gambar wajah seorang bayi yang berada di balik kaca yang basah.

 

"How much this picture?' tanyanya sambil menatapku sepintas.

 

Kawanku yang berdiri di sebelahku menyebutkan sebuah harga. Perempuan ini tersenyum dan meringis, "I just have 100. Could you let me take this with me?"

 

"I'll give it to you for free if it's mine. The painting is beautiful, so it should be belong to a beautiful people," ujarku pendek, "Alas, it's not mine."

 

"Hey, are you a painter?"

 

"I can paint, but I'm not a painter."

 

Dia tersenyum dan mengulurkan tangan, "Name is Joy."

 

Aku melirik sepatunya. Doc Martens. Hmm, mungkinkah perempuan-perempuan muda di sini mengenakan Doc Martens sebagai bagian dari gaya berpakaian mereka sehari-hari? Menarik...

 

 

-2-

 

Sesiangan di hari kedua, aku masih sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapan yang terus terang banyak terlupa. Aku harus bolak balik turun ke lantai dasar untuk membeli berbagai hal, mulai dari paper tape hingga ballpoint. Bahkan satu kali aku harus menggunakan taksi pergi mengunjungi toko yang terletak sekitar 4 km dari gedung tempatku berada, hanya untuk membeli cairan pembersih mobil dan lem super glue. Melelahkan memang, tapi tak terlalu terasa, apalagi dengan kehadiran Joy yang sering mampir ke tempatku dan sesekali menyempatkan diri berbincang di sela-sela kesibukannya. Tak sekalipun aku sempat berpikir tentang si perempuan tomboy bersepatu Doc Martens di gedung convention center.

 

Beberapa orang berkata bahwa nyaris segala hal berkaitan erat dengan kemungkinan dan juga kesempatan. Mungkin memang aku belum mendapatkan kesempatan yang tepat. Sepanjang sore hingga malam hari, aku melihatnya lewat beberapa kali. Ia masih tampak sibuk. Sangat sibuk.

 

 

-3-

 

Everytime I see you something happens to me

Like a chain reaction between you and me

My heart starts missing a beat

My heart starts missing a beat

Everytime

Pet Shop Boys, Heart

 

 

Akhirnya kesempatan yang kutunggu datang tanpa kuduga.

 

Aku memotret sebuah grup musisi yang membawakan sebuah musik klasik di acara pembukaan eksibisi internasional ini. Beberapa kali aku mengganti sudut pandangku demi mendapatkan komposisi yang tepat. Mungkin terlalu sering, hingga akhirnya saat grup musik tersebut selesai memainkan nada-nadanya, seseorang dari antara mereka menghampiriku dengan menyodorkan sebuah kartu nama.

 

"If it's okay, please send us the pictures of us that you've taken already. I'll put a credit for sure."

 

Aku menerima kartu namanya sambil tersenyum, seraya berkata, "Perhaps my pictures are not as good as you expect. But I promise I'll send you then."

 

Lelaki yang sopan dan rapi tersebut membungkukkan badan sambil tersenyum. Ia lantas berjalan menuju seseorang di sebelahku, "Of course I would like you to do the same for us, miss..."

 

Aku menoleh ke sebelahku dan mendadak nafasku berhenti. Sang perempuan tomboy itu sedari tadi berdiri di sebelahku. Ia juga menggenggam sebuah Nikon.

 

Sungguh, jantungku terasa berhenti berdegup.

 

 

 

"Excuse me. Are you a professional photographer?"

 

Perempuan tomboy ini menatap lurus pada mataku. Aku semakin gugup. Kameraku tergantung di leherku, jadi ia tak akan terjatuh walaupun tanganku tak sengaja melepaskan pegangan. Tak hanya tangan, kakiku juga terasa berhenti menjejak tanah.

 

"Are you okay?"

 

Mendadak aku terkesiap. "Oh I'm okay, thank you. I was just drifting..."

 

Ia meringis. "So, are you a professional photographer?"

 

"I'm not, but I can take good enough pictures. Think you can do it better than me. If you do, may I have some, so I can send that guy a good picture of his group?"

 

Ia tertawa kecil, "Actually, I've been thinking the same."

 

Kami berdua tertawa-tawa. Sebuah gunung es yang terbangun di antara kami kini mulai meleleh.

 

"So why not we check each other shots? So we would know whose pictures are worst. C'mon, let's get to the cafe," ujarnya sambil melangkah ringan.

 

 

-4-

 

"Actually I don't really like walking around from mall to mall. It kinda make me bored," ujarnya mengeluh. Ia lantas memasukkan beberapa uang receh ke dalam mesin berisi minuman kaleng. Tak lama, sebuah bunyi kaleng bertumbukan dengan logam terdengar. Ia sedikit membungkuk, meraih sekaleng Coca Cola.

 

"I'm sorry, but I rarely have a time to come down here, so this is my chance to find someplace that sell Doc Martens," ujarku seraya duduk di sebelahnya. "Anyway, it's far more cheaper down here."

 

Ia memandangku sambil memonyongkan bibirnya. "You told me that you'll buy it for your wife, rite?"

 

Aku hanya mengangguk.

 

"How old are you when you're married?"

 

...dan mulailah ia memintaku mengisahkan tentang hidupku, pernikahanku, anakku. Pandangan-pandanganku tentang hidup, tentang aktivitas, tentang musik, tentang sebuah generasi.

 

"You are far more older than me. We have a lot more differences as we live in the different generation. You are raised up in the era where internet and cellphone haven't exsist as today," ujarnya sambil meneguk minuman kaleng tersebut sedikit demi sedikit.

 

Perempuan pintar. Mendadak pikiranku melayang jauh. Menyeberangi samudera. Aku tercenung agak lama. Seperti kataku, perempuan ini mengingatkanku pada seseorang di seberang sana...

 

"You have to fight to have an identity, rite?"

 

Aku mengangguk. Aku masih tak mengerti arah pembicaraannya.

 

"...and here I am. I don't have to fight to have an identity. In my generation, identity is not something that can not be reach without a fight. It's merely given. We never learn to fight for ourselves and in the end, we never know who we really are..."

 

Aku tak banyak merespon. Ia tampaknya sekedar mengeluarkan pandangan personalnya mengenai generasinya, mengenai lingkungannya, mengenai kehidupan anak-anak muda yang kehilangan akar di tempat yang konon menjadi kota paling teratur di Asia Tenggara. Baginya, generasinya tak membutuhkan identitas khusus. Mereka dapat beradaptasi dengan sangat fleksibel. Identitas merekapun dapat berganti-ganti dengan cepat, tergantung di mana sang individu berada. Seseorang dapat memiliki akun di Facebook dan membangun identitasnya sendiri yang berbeda dari identitas di tempat kerjanya. Seseorang juga dapat menjadi seorang pelayan toko saat dalam momen yang berdekatan ia juga adalah seorang pembalap jalanan. Semuanya campur aduk, dan bergerak dengan begitu cepat, berkelindan demikian rumit, hingga akhirnya tak ada lagi identitas tentang siapakah sang individu. Generasi yang terlalu toleran, yang menerima apapun, hingga nyaris tak lagi memiliki apapun untuk diyakini. Kehidupan menjadi begitu eksis hanya dalam konteks kekinian dan kesementaraan saja.

 

"We don't really know, who we really are," ujarnya sambil menatap langit, "and it's kinda sad. Especially for me. Trust me, this city is depressing..."

 

Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan. Dengan komentarnya, dengan depresinya yang seakan dipendam agar tak pernah nampak di permukaan, ia malah semakin membuatku teringat pada seseorang...

 

 

-5-

 

Kami berdua berdiri menatap langit malam yang bersih tanpa awan. Dalam ketinggian seperti ini, suara kendaraan yang lalu lalang di bawah kami sama sekali tak mengganggu. Gedung apartemen ini memiliki atap datar seluas kira-kira tiga kali lapangan basket, sehingga kami dapat berjalan-jalan di atasnya ke sana kemari.

 

"It's kinda funny to sleep in the same bed with someone without touching each other."

 

Kami memang berada dalam satu ranjang semenjak beberapa jam lalu, sebelum aku tertidur dan ia membangunkanku untuk naik ke atap gedung apartemennya. Kami memang tak saling menyentuh, tak saling berusaha berhubungan fisik, walaupun aku harus akui bahwa aku menikmati atmosfer dan reaksi kimia yang terjadi di antara kami berdua. Aku menikmati suasana yang membuatku merasa begitu relaks. Aku menatapnya sedikit dan meringis, "Is that the reason you want me here, in this roof?"

 

Perempuan Cina berambut pendek ini menggeleng pelan, "I can't sleep and I love to talk to you, because you're a stranger. We don't have any responsibility at all to each other. You'll go back to your country in the next few days and we'll forget anything we ever talk at each other. We don't know each other and we'll never know bout each other. But the irony is, I kinda feel free."

 

Di balik penampilannya, apa yang aku tahu hanyalah bahwa ia menyembunyikan sebuah luka, salah sebuah harga dari keteraturan dan disiplin yang diterapkan di tengah masyarakat yang nyaris tak lagi mengenal emosi. Dan kini, ia tak lagi tampak seperti yang kulihat di hari pertama kedatanganku kemari–seorang perempuan yang enerjik dan tampak riang. Kini, di dekatku, seorang yang asing baginya, ia tampak begitu rapuh.

 

Aku hanya diam dan mengambil posisi duduk tak jauh dari tempatnya duduk dengan kaki tergantung-gantung bebas di udara. Mobil-mobil yang lewat di bawah kami tampak jauh lebih kecil dari ukuran kaki kami. Suara-suara begitu samar terdengar. Di sini, di atas sini, apa yang terdengar hanyalah suara hembusan angin malam...

 

Di langit, bintang-bintang berkedip bergantian. Mungkin bintang-bintang tersebut juga merasa asing satu sama lain...

Posted at 01:38 am by perangdancinta
Make a comment  

Next Page

Utsukushisa To Kanashimi To



“Melancholy is sadness that has taken on lightness.”
-Italo Calvino

"People living deeply have no fear of death."
-Anais Nin

"The only antidote to mental suffering is physical pain."
-Karl Marx




Dedicated for Ms.Ishtar, my northern star


No real name down here, please!
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

I could feel at the time
there was no way of knowing
Fallen leaves in the night
who can say where they’re blowin’
As free as the wind
hopefully learnin’
As the sea at the tide
has no way of turnin’
More than this
you know there’s nothin’
More than this
tell me one thing
More than this
there’s nothin’



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed