The girl: “Why don’t you interested in me? Is it because as a woman I’m clever than you?”
Bond: “No. Single.”
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang kawan, aku dibawa pada kenyataan bahwa dari sekian relasiku dengan perempuan, aku hanya pernah membangunnya satu kali, dengan seorang perempuan yang menyandang status sosial single. Setidaknya yang kumaksud adalah single di awal kami membangun relasi. Beberapa memang kemudian menjadi single setelah kami berhubungan sekian lama, tapi yang kumaksud bukanlah itu, melainkan single saat kami membangun relasi. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa aku selalu membangun relasi dengan perempuan yang telah memiliki kekasih.
Salah seorang dari perempuan ini pernah bertanya padaku mengenai alasan-alasanku di balik tindakan tersebut. Aku hanya menjawab pendek apa yang ada di benakku, “Karena hanya perempuan yang tidak lagi single yang mampu memberiku jaminan bahwa affair cinta kami hanyalah sementara dan tidak akan abadi.”
Kawanku mengangkat alis, keningnya berkerut. “Maneh teu hayang cinta maneh abadi?” [“Tak inginkah engkau agar cintamu abadi?”]
Aku tertawa. Ia mencampuradukkan antara keabadian dan affair cinta. Ia tak paham bahwa affair cinta tidak akan pernah abadi. Dan mengharapkan keabadian dari sesuatu yang tak abadi, adalah kesia-siaan. Hidupku terbatas, aku tak ingin menghabiskannya untuk kesia-siaan.
Aku menikmati kesementaraan. Kesadaran bahwa ini akan berakhir esok atau beberapa bulan atau bahkan tahun kemudian, adalah sesuatu yang membawaku pada kesadaran bahwa apapun yang kita dapat, akan lenyap kemudian. Kesadaran ini tidak menderaku, melainkan menenangkanku. Tentu saja, seorang kawan lainnya benar saat ia menuduhku bahwa apa yang kulakukan hanyalah sebuah permainan ekstase. Sekedar permainan sementara yang memberiku tegangan adrenalin dalam sebuah permainan berbahaya yang jelas dikutuk oleh masyarakat yang penuh kemunafikan ini.
Dalam satu kasus yang pernah kulakukan, aku juga dengan sadar melecehkan wibawa seorang polisi saat aku mengencani dan meniduri isteri kebanggaannya. Saat aku bertukar ludah dalam french kiss yang mendalam, dengannya aku meludahi wajah hukum. Saat aku melesakkan jari tengahku ke vagina atau lubang pantatnya, aku juga mengacungkannya kepada struktur kekuasaan yang mengikatku. Orgasmeku adalah sebuah pukulan telak bagi struktur sosial yang begitu kubenci. Tapi, aku tidak melakukan hal tersebut semata-mata karena aku membenci struktur sosial yang munafik, melainkan karena isteri sang Kapolda tersebut memang cantik.
Aku sadar bahwa aku hanyalah sebuah refleksi dari masyarakat yang munafik. Dan kemurnian cinta yang sadar akan kesementaraannyalah yang membuatku tetap waras.
Tapi dalam setiap langkahku dalam membangun affair cinta, baik yang singkat ataupun yang berkelanjutan, seringkali yang paling menderita adalah isteriku. Tidak, bukan karena ia tidak mengetahui perilakuku yang memang pantas dikutuk tersebut. Ia mengetahuinya, dalam satu kasus bahkan ia menjadi tempatku menuangkan kisah affair cintaku dengan seseorang yang kini menjadi bintang ufuk utaraku. Dapat kukatakan, bahkan isteriku tersebut nyaris mengenal karakter sang subjek walaupun tak pernah bertemu secara khusus. Penerimaan ini, sebagaimana aku juga ketahui, memang tidak berjalan mulus. Ada sebuah derita sebagaimana proses eksorsis dilakukan. Ada sebuah pedih saat kita semua meninggalkan dongeng dunia lama yang meninabobokkan untuk melihat kenyataan yang jujur. Sebagaimana yang terjadi pada Neo kala ia telah memilih untuk menelan pil merah. Tapi toh sakit tersebut, adalah sakit yang diderita karena kita memilih untuk lebih mengenal hidup.
Selanjutnya, apa yang mengganggu, justru hadir dari mereka-mereka para pengagum dunia lama, yang masih setia dengan dongeng-dongeng mereka walaupun dongeng-dongeng tersebut berulangkali mengkhianati mereka. Mereka-mereka yang merasa mengenal aku dan isteriku seperti mereka mengenal punggung tangan mereka sendiri. Beberapa berkata, “Kasihan ya isterimu,” sebuah ungkapan menyedihkan yang hanya mengungkapkan betapa menyedihkannya mereka yang memberi pernyataan tersebut. Yang lain berkata lebih menuduh, “Kamu sama sekali nggak peduli sama isterimu ya?”. Sisanya bahkan menyatakan dengan lebih ekstrim, “Kalau kelakuan kamu kayak gitu, kenapa kamu dulu nikah, kenapa sekarang nggak kalian cerai aja sekalian?” Pernyataan yang malah membuatku bingung.
Memangnya apakah pernikahan itu? Apa bedanya dengan affair cinta yang banyak kulakukan dengan berbagai perempuan lainnya?
*****
“If the doors of perception were cleansed, man would see everything as it is, infinite.”
—Blake
Mitologi-mitologi yang tersebar dari dunia Barat hingga ke Timur, memberitahukan satu hal: pernikahan adalah sebuah reuni dari dua sisi yang saling melengkapi. Awalnya kita semua adalah satu. Melalui pernikahan kita adalah dua di atas dunia, tapi poin yang ada jelas bukan hal tersebut, melainkan pertemuan kembali dua identitas spiritual. Inilah mengapa pernikahan seharusnya dibedakan dari affair cinta. Pernikahan tidak ada kaitannya dengan hal tersebut.
Affair cinta adalah sebuah pengalaman spiritual yang berbeda, yang tidak menjejakkan kaki di atas tanah yang sama, walaupun berhubungan. Saat satu pasangan menikah karena mereka berpikir bahwa pernikahan adalah sebuah affair cinta jangka panjang, mereka akan bercerai pada satu saat nanti—kalaupun tidak bercerai, mereka hanya berjalan berbarengan secara fisikal tanpa kedekatan spiritual apapun—karena semua affair cinta akan berakhir dengan kepedihan. Saat kita hidup dengan mengikuti kata hati kita sendiri, kita akan menemukan pasangan kita, baik lelaki ataupun perempuan, karena kita telah membuka medan magnet yang tersembunyi dalam diri kita sendiri. Kita membuka medan magnet tersebut justru dengan mulai hidup, bertindak, berpikir seperti adanya diri kita sendiri, bukan dengan sekedar hidup seperti yang orang lain inginkan atau hidup demi nilai-nilai artifisial orang lain. Saat kita mendengarkan diri kita sendiri, membiarkan hati kita menuntun hidup kita, maka kita akan menemukan orang lain yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Saat kita memilih pasangan berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh orang lain atau bahkan masyarakat, khususnya masyarakat modern, kita akan selalu terjebak pada kriteria-kriteria fisikal—kriteria-kriteria yang lebih cocok untuk affair cinta. Dengannya, kita menikahi orang yang tidak tepat. Tapi saat kita menikahi orang yang tepat, sadar atau tidak, kita telah merekonstruksi citra inkarnasi Tuhan, itulah arti sebuah pernikahan.
Tapi apabila pernikahan adalah sebuah pertemuan kembali, reuni, dari diri dengan diri, lantas mengapa Emma Goldman misalnya, begitu menentang pernikahan? Seperti kita ketahui, Emma Goldman bukanlah seorang materialis murni, karena ia juga percaya dengan keberadaan diri, dengan spiritual, dan bahkan eksistensi takdir, walaupun ia adalah seorang anarkis yang begitu peduli pada apapun yang bersifat material.
Di bawah hegemoni dunia modern, apa yang kita kenal dengan pernikahan bukan lagi sebuah pernikahan seperti yang dijabarkan di atas. Pernikahan adalah sebuah pertemuan dua diri secara spiritual. Aspek biologis dan fisikal, adalah sesuatu yang melengkapi tapi tidak menjadi sesuatu yang primer, apabila keduanya menjadi primer seringkali kedua hal tersebut membawa kita pada identifikasi yang tidak tepat. Seringkali, pernikahan yang sesungguhnya, justru tidak diresmikan atau dilegalkan di bawah Undang-Undang ataupun hukum pernikahan yang berlaku, saat pernikahan di era modern justru mengikat segalanya dengan berbagai aturan tertulis, penuh ancaman hukuman, dan karenanya, ikatan yang terjadi hanyalah sebuah ikatan di atas kertas bermeterai, bukan lagi ikatan berdasar etos. Kita selalu dihadapkan pada sesuatu yang bersifat fisik: kecantikan, ketampanan, kemapanan dan stabilitas ekonomi, legalitas yang disahkan di atas kertas, kehadiran penghulu. Fisik, fisik, dan fisik.
Tapi fisik juga bukan sesuatu yang seharusnya dihindari, terutama karena aku bukan seorang pendeta yang bercita-cita menjadi malaikat—makhluk spiritual tanpa ujud fisik. Aku adalah seorang manusia, yang memiliki aspek spiritual tapi juga ujud fisikal. Demikian juga dalam pernikahan, fisik juga sesuatu yang membuatnya lengkap tapi bukan sesuatu yang primer. Ada dua tahap dalam pernikahan. Pertama, adalah gairah yang mendorong impuls-impuls yang indah yang diberikan pada kita oleh alam dalam permainan seks yang secara biologis dapat memproduksi sebuah kehidupan baru. Seorang anak, adalah kehidupan lain di mana ia (atau mereka, apabila sang anak lebih dari satu) mengikatkan sekaligus menginisiasi relasi pernikahan untuk memasuki tahap selanjutnya. Pada saat sang anak beranjak dewasa, memilih hidupnya sendiri dan meninggalkan kedua orangtuanya, pernikahan memasuki tahap berikutnya. Saat inisiasi yang tanpa sadar diberikan oleh sang anak, seringkali kedua orangtuanya melihat bahwa pernikahan diikat oleh keberadaan sang anak, di mana mata rantainya adalah sang anak itu sendiri. Apabila demikian yang terjadi, maka kepergian sang anak akan membawa pergi juga pernikahan yang belum sempat memasuki tahap kedua. Dengan kata lain, pernikahan telah gagal dalam program inisiasi yang diberikan oleh sang anak.
Pernikahan juga bukan sebuah relasi. Relasi adalah keberadaan dua individu yang tetap sebagai individu, sementara seperti tadi kupaparkan di atas, pernikahan adalah peleburan dua individu menjadi satu, secara spiritual. Saat kita mengorbankan diri dalam pernikahan, pengorbanan tersebut bukanlah pengorbanan atas pasangan kita, melainkan pengorbanan demi kesatuan. Citra Cina atas Tao, dengan gelap dan terang berinteraksi—itulah kesatuan dari yin dan yang, satu yang tak dapat menjadi utuh tanpa lainnya, bagiku itulah arti pernikahan.
Pernikahan, adalah transendensi. Sementara affair cinta, adalah relasi. Pernikahan, adalah pengalaman spiritual. Sementara pernikahan di bawah dunia modern, adalah konstruksi sosial. Apabila yang kita kehendaki adalah transendensi, maka pengalaman tersebut tidak selalu perlu untuk hadir sebagai sebuah pernikahan legal di bawah dunia modern. Di titik ini, aku bergabung dengan Emma Goldman, atau juga Friedrich Engels yang melihat keluarga sebagai bagian terkecil dari struktur hirarki kekuasaan sosial.
Jadi, dapat kukatakan pada mereka yang menghakimi kami, bahwa aku telah memilih menikahi ia yang menjadi isteriku, justru sebelum kami menikah di tahun 2002 sebagaimana tercantum dalam akte nikah. Dan bagiku, pernikahanku dengannya, belum juga berakhir, masih ada tahap selanjutnya yang belum aku lalui. Aku sedang berada pada proses inisiasi yang anakku berikan padaku, pada kami.
“In fact, there has been much pain [...] but fundamentally, markets are not about morality. They are large, complex systems, and if things get stable enough, they move on.”
—Fareed Zakaria, dalam Greed is Good (To a Point) – The Capitalist Manifesto
Kita tidak lahir di surga ke tujuh, kita tidak lahir di Atlantis di dasar samudera sana, kita lahir di sini, di negeri yang bukan atas nama generasiku, dinamai Indonesia. Kita beruntung sekaligus tidak beruntung menjadi bagian dari salah satu regional yang paling berantakan di atas muka bumi dan hidup di masa di mana latar belakang dan masa depan begitu carut marut dan seakan saling terpisah. Kontradiksi kondisi antarkelas begitu tajam tapi sekaligus begitu rapat tertutup. Di satu sisi, orang-orang dirampas lahan kerja dan bahkan rumah tempatnya berlindung. Di sisi lain bergerombol orang-orang yang dalam semalam mampu berpesta seharga biaya kontrak rumah selama satu tahun. Di satu sisi, orang-orang selalu dilanda kecemasan tentang bagaimana harus membiayai hidup anaknya esok hari; di sisi lain orang-orang tertentu dapat menjamin kemakmuran anak cucunya hingga beberapa generasi.
Farid Zakaria, sang ekonom pro-Friedman yang juga menjadi tulang punggung Newsweek, Inc. menegaskan bahwa pasar memang tidak berbicara moral. Pasar berjalan tanpa peduli selain pasar itu sendiri. Apabila dibutuhkan jutaan orang kelaparan demi tetap berjalannya pasar, itu adalah harga yang harus dibayar. Apabila dibutuhkan pembantaian massal untuk mengimplementasikan nilai-nilai baru tentang pasar pada masyarakat, itu adalah harga yang juga harus dibayar. Di Indonesia, lebih dari sejuta orang mati dibantai dengan tuduhan komunis yang anti-Tuhan, untuk melapangkan jalan bagi pasar baru. Di Irak invasi dan pembersihan atas kaum muslim radikal dilakukan untuk melapangkan jalan bagi pasar. Di Chile kudeta yang dimotori Pinochet, yang menyapu bersih setiap suara sumbang, dirayakan sebagai awal era baru bagi kekuasaan pasar. Semua atas nama pasar.
Tak ada apapun lagi yang lebih penting, selain pasar. Tidak komunitas, tidak kawan-kawan, tidak keluarga besarmu, tidak juga anak-anakmu. Sekali lagi, pasar tidak peduli pada urusan moral.
*****
Aku dan Dede, OB perusahaan tempat aku bekerja, telah sepakat untuk memperpanjang hari libur kami masing-masing dari libur yang telah ditentukan oleh kepala perusahaan. Setelah selama satu tahun bekerja ia tak pernah mendapat ijin untuk mengambil cuti, ia nyaris tak pernah memiliki hari libur, dalam sehari pun ia nyaris selalu harus bekerja hingga 20 jam. Maka, sebelum libur dimulai, ia berkata padaku, “Libur diperpanjang ah, ketemu keluarga nih.” Dari 6 hari libur yang diberikan oleh boss, ia memperpanjangnya menjadi 7—hanya ia tambahkan satu hari. Akupun demikian. Aku bekerja lebih ringan dibanding dirinya, tapi mengapa tidak menambahkan 1 hari, setelah dalam minggu minggu terakhir sebelum Idul Fitri aku nyaris tak pernah mendapatkan hari libur?
Maka demikianlah, kami memperpanjang liburan kami.
Sore hari di akhir liburan, di hari pertama aku hadir lagi di tempat kerjaku, semua telah hadir kecuali Dede. Aku tahu, jam kerjaku bermula pada siang hari, bukan sore. Boss-ku sedang duduk di sofa, mukanya terlihat masam. Manajerku duduk di dekatnya, ia menatapku tanpa ekspresi. Di sisi lain, anak perempuan sang boss sedang duduk seraya asyik bermain dengan PSP-nya. Aku berjalan tanpa ekspresi, tapi dalam hati aku menghitung... satu... dua... tiga...
“Pam!”
Tepat di hitungan ke-empat, sang boss menghardikku. Saat yang kutunggu tiba. Tetap tanpa ekspresi aku berhenti, berbalik menghadap sang boss. Dan mulailah rentetan omelan dan ceramah meluncur dari mulutnya yang memang tampaknya tak dapat bersuara lain selain suara omelan, perintah dan tekanan. Aku tetap menatapnya tanpa ekspresi. Aku telah siap.
“Kenapa baru datang sekarang? Kamu tau minggu lalu kita udah sepakat untuk hadir kerja kemarin. Lagipula ini udah sore, jam kerja kamu kan dari siang,” rentetnya nyaris tanpa jeda.
“Baru dapat pesawat tadi siang, Mbak,” ujarku berbohong. Lagipula ia juga jelas berbohong saat berkata bahwa kami telah sepakat untuk libur selama 6 hari. Ia menulis perintah sebagai memo resmi perusahaan, menentukan bahwa libur Idul Fitri hanya 6 hari, tanpa meminta persetujuan karyawan lain. Ia memutuskan, kami semua menjalankan tanpa ada celah bagi pertanyaan dan keluhan ketidaksetujuan. Bagaimana bisa hal itu ia sebut sebagai kesepakatan?
“Kenapa kamu baru beli tiket pesawat hari ini? Kamu mustinya bisa atur waktu dong...”
“Bukan saya yang beli tiket pesawat. Saya dibeliin,” bualanku semakin menjadi-jadi.
“Kenapa kamu bergantung pada orang lain buat beli tiket pesawat aja. Kamu mustinya...”
“Saya nggak punya duit buat beli tiket pesawat sendiri. Apalagi sekarang tiket lagi mahal.”
“Trus kenapa kamu maksain pergi?”
“Buat orang-orang tertentu, terutama keluarga saya, ketemuan keluarga pas Idul Fitri itu penting banget,” aku masih memiliki jawaban. Seperti kataku tadi, aku telah siap, walau di titik ini, jelas bualanku semakin parah semenjak sesungguhnya aku juga tak peduli pada Idul Fitri selain melihatnya sebagai hari libur di mana aku memiliki waktu cukup panjang untuk bermain dan berkumpul bersama anakku, keluarga kecilku.
Sesaat ia terdiam walau dari sorot matanya aku tahu ia sangat geram. Aku tetap berdiri dan menatapnya tanpa bergeming. Tak lama ia mulai kembali serangannya, “Kamu tau kalo kerjaan ini juga penting?”
“Lebih penting dari keluarga, maksud Mbak?”
“Nggak usah eyel-eyelan sama saya. Kamu tau maksud saya!” ia semakin murka. Dalam hati aku menikmati drama tersebut.
“Saya cuman negesin Mbak, siapa tau saya salah ngerti maksud Mbak. Nanti saya lagi yang disalahin kalo saya salah ngerti.”
“Iya! Kerjaan ini lebih penting dari keluarga!”
Sang manajer melirik pada sang boss sambil mengangkat alis. Sang anak mendadak berhenti memainkan PSP-nya dan menatap sang ibundanya. Sementara aku mengalami momen ekstase. Sang boss berdiri diam, geram tapi ia tahu bahwa ia telah salah berucap dan tak akan mampu menarik ucapannya lagi. Beberapa detik, semua hening dan seakan membeku. Aku tetap berdiri tenang dan tak menunjukkan ekspresi apapun.
Tak ada respon apapun, sang boss duduk kembali. Aku membalikkan badan dan melangkahkan kaki ke ruang kerjaku. Aku tersenyum. Tapi mendadak dalam hati muncul sebuah perasaan pilu. Sang anak kini mendengar pernyataan ibundanya sendiri betapa kerja lebih penting dari dirinya. Pasti hatinya hancur—setelah selama ini ia berkeluh kesah betapa sang ibunda tak pernah memiliki waktu bersamanya di rumah dan selalu mendapatkan bualan tentang betapa sang ibunda melakukan ini semua demi diri sang anak. Dalam momen tadi, ia telah mendapatkan jawaban jujur dari sang ibunda. Sedikit banyak pasti tadi aku telah turut menyakiti hatinya dengan mendorong sang ibunda berkata jujur. Setidaknya, sang anak mustinya juga berbangga hati karena dalam drama para pembual yang singkat tadi, sang ibunda telah menjadi pihak yang jujur.
Sesaat sebelum memasuki pintu ruang kerjaku, aku menoleh. Sang anak kini telah meletakkan PSP-nya, ia duduk merenung menatap keluar jendela dengan wajah sedih.
Maafkan aku. Kejujuran seringkali menyakitkan. Tapi kita memang tidak lahir di surga ketujuh ataupun di Atlantis di dasar samudera sana. Kita hidup di dunia di mana tak ada lagi hal yang penting selain pasar. Dan sekali lagi, pasar tidak peduli moralitas. Tidak juga manusia.
Mungkin yang selanjutnya harus disingkirkan oleh pasar demi berjalannya perusahaan ini, adalah diriku. Tapi sudahlah, masa depan belum tertulis.
Indonesia kini sedang dilanda demam konflik dengan Malaysia. Terutama para patriot karbitannya. Puluhan orang mengomel karena pemerintah Malaysia dikabarkan mengklaim bahwa tari Pendet adalah budaya milik Malaysia, padahal beberapa saat sebelumnya mereka bahkan tak tahu dari daerah mana tari Pendet hidup—atau sadar bahwa ada sebuah tari yang dinamai tari Pendet. Beberapa kawan mengganti profile picture dalam akun Facebook mereka dengan bendera merah putih. Beberapa kawan lain menyumpah serapahi Malaysia dalam beberapa obrolannya. Sebuah artikel di salah satu media massa nasional bahkan membahas kematian Noordin M. Top dengan berkali-kali menulis betapa sang teroris adalah warga negara Malaysia—padahal aku tak melihat ada perlunya kalimat yang menegaskan bahwa ia warga Malaysia perlu diulang-ulang sesering itu. Seseorang bahkan menamai Malaysia dengan istilah baru: Malingsia. Seorang kawan lain mungkin berjiwa enterpreneur, ia membuat disain t-shirt yang laris seperti kolak di bulan Ramadhan, bertuliskan "Ganyang Malaysia". Ia memang tidak peduli pada isu tersebut, ia hanya mengambil keuntungan dari adanya isu tersebut. Seorang skinhead patriotik bertanya tentang posisiku dalam melihat konflik ini. Pertanyaan yang hanya kutimpali dengan tawa.
Sebuah posko "Ganyang Malaysia" didirikan di depan markas PDI-P. Mungkin karena mereka terlalu dalam bernostalgia pada era kejayaan Sukarno. Bahkan seorang teman berkata bahwa posko itu untuk menggalang milisi siap tempur yang akan diberangkatkan ke Malaysia. Aku tertawa-tawa mendengarnya, aku hanya berpikir bagaimana seandainya para milisi itu diberangkatkan ke Malaysia dengan pesawat terbang, lalu dengan semangat perang mendarat di bandara Kuala Lumpur. Aku membayangkan bagaimana di tengah-tengah suasana kota Kuala Lumpur segerombolan orang muncul di bandara dengan semangat perang berkobar. Mungkin mereka malah menjadi tontonan menarik di tengah kemonotonan urban, selayaknya gerombolan pemain sirkus atau pasar malam.
Melongok ke belakang, dekade 1960-an, Indonesia mengalami untuk pertama kalinya kampanye terbuka untuk membenci Malaysia dengan slogan "Ganyang Malaysia" yang didengungkan oleh Sukarno. Ketegangan ini hadir di masa-masa di mana kemerdekaan sebagai negara independen baru saja teraih. Di masa seperti ini keadaan politik amat dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan lain di mana negara-negara kolonial masih berusaha menancapkan pengaruhnya di negeri-negeri mantan jajahannya. Belum lagi berhubungan dengan sikap Sukarno yang menentang keras tawaran lembaga-lembaga donor, maka keberadaan Amerika Serikat dan Inggris di Filipina dan Singapura jelas mempengaruhi ketegangan. Hal yang ruwet ini ditambah dengan ditandatanganinya AMDA (Anglo-Malayan Defence Agreement) atau perjanjian pertahanan antara Inggris dan Malaysia pada 1957. Ini semua hanya menjurus pada pembenaran kecurigaan-kecurigaan yang muncul sebelumnya di mana Malaysia dicurigai berada di balik pemberontakan kelompok-kelompok separatis yang tidak ingin bersatu di bawah bendera Indonesia seperti kasus PRRI (di mana 30 orang pemberontak PRRI mendapatkan suaka di Malaysia). Dalam pandangan Sukarno, di mana sikap anti-kolonialisme sedang panas-panasnya di kalangan negara-negara yang baru lahir di mana-mana, sikap Malaysia tidak hanya memalukan tapi juga wajib diwaspadai. Walau tidak didukung dengan data-data yang memadai karena kesimpangsiuran informasi, beberapa pihak bahkan melihat bahwa ini juga ada kaitannya dengan kasus Irian Barat yang sedang memanas, di mana militer Indonesia mempunyai kepentingan di sana.
Di saat-saat sulit, di mana rakyat menghadapi tekanan sosial, ekonomi dan politik yang kacau balau, sudah lazim bagi para pemimpin memunculkan musuh eksternal untuk mengalihkan semua perhatian hingga hanya terpaku pada fokus yang sama. Orwell mengisahkan hal serupa dalam salah satu karya besarnya, 1984, Bolshevik melakukan prakteknya beberapa dekade sebelum novel itu terbit di daratan Russia di mana seluruh penentang kebijakan Bolshevik dilabeli sebagai Tentara Putih atau agen imperialis. Bahkan menteri propaganda Nazi, di hadapan pengadilan Nuremberg, mengakui bahwa amat mudah menggiring massa untuk mendukung pemerintah apabila pemerintah berhasil menciptakan musuh eksternal.
Pada 17 September 1963 Malaysia memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hal ini disusul dengan meletupnya kerusuhan anti-Malaysia, khususnya di Jakarta dan Medan. Hal serupa yang juga dibalas dengan kerusuhan anti-Indonesia di Malaysia. Keadaan semakin memanas, hingga setelahnya Sukarno mencanangkan Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang berupaya meningkatkan konstelasi konflik ke dalam tingkatan militer. Konflik ini mulai reda setelah Amerika Serikat di bawah presiden Kennedy turun tangan dan perundingan dan upaya penyelesaian dengan jalan diplomatik diselenggarakan. Sesuatu yang di satu sisi membuat lega tapi di sisi lain membuat muak. Muak karena mengapa setiap kasus mendapat campur tangan Amerika Serikat. Belum ditambah dengan sang presiden Kennedy yang kini dielu-elukan banyak orang sebagai presiden pecinta perdamaian—orang-orang mungkin lupa bahwa Invasi Teluk Babi berlangsung di bawah kepemimpinan Kennedy, sang JFK yang dielu-elukan tersebut.
Lantas memasuki abad baru, kita seakan dikembalikan pada konflik tersebut. Dimulai dengan kasus Ambalat, lantas lagu "Terang Bulan", budaya Reog, kasus perlakuan majikan Malaysia terhadap para TKI, kasus Manohara (yang membuat ibu-ibu pecinta sinetron menitikkan air mata tapi malah membuat para penggemar BDSM menyeringai), hingga tari Pendet, kita semua seakan diingatkan bahwa Malaysia adalah musuh yang selalu membayangi.
Tapi di abad baru yang sudah berjalan nyaris satu dekade ini di samping isu Malaysia, ada isu yang memang kurang memancing perhatian dan segera dianggap angin lalu—antara lain karena memang banyak kasus tak pernah mendapatkan tempat dalam pemberitaan media-media massa. Isu tersebut adalah program-program penyelamatan kapitalisme global dan pentransformasiannya ke dalam neoliberalisme juga hadir dan menancapkan kukunya secara global. Dengan kalimat yang lebih mudah, program tersebut antara lain diimplementasikan dalam bentuk perluasan lahan-lahan produktif untuk dijadikan lahan komoditas: hutan ditebangi besar-besaran, tanah-tanah penduduk diserobot dan dicaplok. Pasuruan, Takalar, Suluk Bongkal, pegunungan Kendeng, Kulon Progo, untuk hanya menyebut beberapa kasus. Di Riau seorang bocah tewas dan desa dibakar, di Pasuruan seorang bocah lain juga tewas, di Takalar penduduk ditembaki dengan peluru tajam buatan Pindad. Tak ada kejelasan untuk kasus-kasus tersebut selain hanya menambah daftar panjang kasus yang tak terselesaikan dalam dokumen Kontras dan Komnas HAM.
Masalahnya, seberapa besar kasus-kasus tersebut menarik perhatian para patriot karbitan yang terbakar oleh seruan pengganyangan Malaysia abad-21? Seberapa besar perhatian mereka yang mengaku nasionalis tertuju pada apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik "ketenangan" negeri yang dinamai Indonesia ini, yang mereka klaim amat mereka cinta dan akan mereka bela?
Aku berkata mengenai hal tersebut dengan seorang kawan. Kawanku tersebut hanya berkata pendek, bahwa memang benar apabila pertanyaannya memang seputar bela membela, tapi pertanyaanku salah, karena bagaimanapun juga sebagian besar dari para nasionalis ini kalaupun tahu mengenai kasus atas tanah yang sedang memuncak, telah memutuskan dan mengambil sikap. Masalahnya, kata kawanku lagi, yang mereka bela adalah nama Indonesia, bukan hidup para petani atau siapapun yang menderita di bawah namanya.
I could feel at the time there was no way of knowing Fallen leaves in the night who can say where they’re blowin’ As free as the wind hopefully learnin’ As the sea at the tide has no way of turnin’ More than this you know there’s nothin’ More than this tell me one thing More than this there’s nothin’