“Only the machine who has no heart, no feelings and emotions. That’s what make us, human, different.”
—John Connor, Terminator 4
“When you let the machines take control almost all parts of your life, you’ll lost your humanity. Gradually, you’ll become one of them.”
—Green Anarchy
Mekanis, adalah kata yang kupikir cukup tepat untuk menggambarkan mayoritas penduduk Singapura—setidaknya mereka yang kujumpai di jalanan. Betapa tidak, pada satu malam yang cukup sepi, saat aku sedang berjalan bersama kawan baruku di sana dan hendak menyeberang jalan, apa yang kulihat memperkuat asumsi awalku tersebut. Jalanan begitu sepi, tak ada satupun mobil yang lewat kala beberapa orang—termasuk kami berdua—berdiri di hadapan zebra cross, bersiap hendak menyeberang. Lampu bagi pejalan kaki menyala merah, tanda bagi para penyeberang untuk berhenti dan tak diijinkan untuk menyeberang hingga lampu menyala hijau. Aku menengok ke kiri dan ke kanan. Tak ada mobil hendak melintas sejauh mataku memandang. Aku menggamit kawanku untuk menyeberang. Kami menyeberang, tiba di seberang jalan dengan baik-baik saja. Masih tak ada mobil yang lewat. Tapi apa yang membuat diriku agak heran, adalah saat aku menoleh. Di seberang jalan tempat kami berdiri tadi, masih ada sekitar empat orang lainnya yang tak juga menyeberang padahal jalanan demikian lengang. Lampu masih menyala merah, dan mereka menunggu untuk berganti hijau.
Aku menepuk pundak kawanku, menunjuk orang-orang di seberang jalan dengan daguku. Ia tersenyum, “They’re waiting for the green light.”
Aku meringis. Aku tahu mereka menunggu lampu menyala hijau. Tapi kala jalanan yang lurus ini demikian lengang dan kita akan dapat melihat mobil—walaupun dalam kecepatan tinggi—yang mungkin tiba-tiba muncul di batas pandang kita? Aku ragu, apakah lampu hijau tersebut, sebagai sebuah mekanisme yang melayani kita, ataukah kita yang melayani mekanisme tersebut. Kota ini memang teratur, sedemikian teraturnya hingga aku sulit membedakan manusia dan mesin.
Di negeri di mana segalanya tertata dengan sedemikian rapi, mekanis dan otomatis. Untuk mengendarai MRT (Monorail train) engkau tak lagi berhadapan dengan manusia, engkau hanya berhadapan dengan mesin yang akan memberimu tiket dan akan memproses pembayaranmu. Engkau tak boleh melakukan hal-hal yang tak diijinkan oleh sistem dan engkau tak dapat melanggarnya—betapa tidak, di banyak tempat engkau akan menemui tanda bertuliskan “This area is under surveillance”. Sedikit menengok ke atas dan teliti memperhatikan sudut-sudut gedung, apa yang akan engkau temukan adalah CCTV. Jacob, seorang kawanku di Jakarta yang awalnya begitu mengagumi Singapura, membantah keluhanku soal negeri tersebut yang penuh dengan mata yang mengawasi, dengan berkata, “Enggak semua tempat kok diawasi CCTV, cuman daerah-daerah perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah sama apartemen dan jalan-jalan besar aja.” Aku berpikir keras, lantas tempat apa yang tersisa saat di sana nyaris semua tempat adalah kawasan perbelanjaan, hotel, kantor, sekolah dan apartemen. Tersisa toilet mungkin?
Mungkin memang toilet. Di sebuah toilet di sebelah Kopitiam, sebuah lokasi jajanan 24 jam, aku menemui toilet yang tak jauh berbeda dengan toilet umum di Jakarta. penuh tissue, beberapa keran air tak berfungsi, dan aroma air kencing yang tak disiram memenuhi ruangan.
“Mentalitas mereka yang emang beda banget ma kita. Mereka bisa tertib karna mereka memang ngebiasain idup tertib dan ketata rapih,” ujar boss-ku mengenai Singapura. Boss yang selalu tidur di hotel, tak terlalu banyak berkomunikasi dengan penduduk setempat selain hanya rekan-rekan bisnisnya. Boss yang pernah berulang kali menjajaki Singapura untuk bekerja atau berbelanja di mall-mallnya, yang selalu bepergian dengan menggunakan taksi. Aku menyangsikan ucapannya, walaupun aku mengangguk mengiyakan saat ia berkomentar. Mungkin ia memang belum pernah memasuki toilet Kopitiam. Mungkin ia memang tak pernah terlibat pembicaraan yang lebih intim seperti yang kulakukan bersama Lie Chen dan Joy, selain urusan bisnis atau wisata turisme.
Saat aku menghabiskan beberapa malam setiap kali aku pulang dari pekerjaanku bersama seorang gadis Cina kawan baruku, berjalan-jalan menyusuri Singapura, aku tak dapat menahan riang perasaanku saat aku melihat sebuah grafiti ilegal di sebuah dinding tak jauh dari Plaza Singapore. Aku teringat pada komentar boss-ku. Mentalitas katanya? Menurutku ini bukan persoalan mengenai mentalitas, ini adalah persoalan panoptikon. Aku yakin, di lokasi dinding di mana grafiti kutemukan, pasti keberadaan CCTV amat minim.
Maka, saat Jacob bertanya padaku mengenai pendapatku seputar Singapura, aku hanya menjawab, bahwa kota tersebut memang bersih, nyaman, teratur, tapi nyaris tanpa emosi karena segalanya terlalu mekanik. Aku nyaris tak merasakan emosi di sana, semua terlalu datar bagiku. Singapura memang surga belanja bagi para konsumen—aku menemukan harga Doc Martens dan komik yang jauh lebih murah daripada harga di Jakarta. Negeri ini nyaman untuk disinggahi sesekali, sebagai selingan bagi orang-orang yang terbiasa hidup di kota yang kotor dan kacau balau seperti Jakarta. Tapi untuk menjadi penduduk tetap di sini? Mungkin tidak, ini bukan tempat bagi orang-orang sepertiku.
Posted at 05:14 pm by perangdancinta