Tuesday, December 15, 2009
Dalam Kenangan: Jujuk Juliyah

Don’t wept for someone because she’s no more, but be bless because who she was.

Ancient wisdom

 

 

Ibu ini tampak begitu rapuh, badannya kurus dan tampak tak terlalu terurus. Suaranyapun terdengar pelan. Di antara kawan-kawannya yang lain, ia malah tampak paling pendiam. Aku hanya sempat bertemu dengannya dua kali, sebelum ia pergi dan tak pernah kembali. Nyaris semua kawan-kawanku yang bertandang bersamaku ke tempat di mana ia sering berkumpul, tak pernah terlalu memberi perhatian padanya. Kawan-kawannya yang lain begitu lantang bersuara, ia tampak lenyap di sela-sela obrolan yang terkadang memanas dan tawa yang membahana.

 

Tapi, toh ibu ini yang pada akhirnya berjalan hingga akhir, melewati batas kemampuannya sendiri. Ia yang masih memegang teguh keyakinannya bahwa dunia ini harus berubah, bahwa sistem saat ini tidak menghargai apapun selain penumpukan material, tidak juga nyawa dan hidup manusia. Saat kawan-kawannya mundur satu demi satu atas tekanan, intimidasi dan represi, atas ancaman pemecatan dan penghakiman yang tak pernah adil, ia tetap bersikukuh di jalan yang telah ia pilih untuk jalani. Ia melakukan aksi mogok makan. Ia tak pernah paham berbagai teori mengenai kapitalisme ataupun utopia yang diagung-agungkan tentang dunia masa depan yang lebih baik. Ia hanya tahu satu hal, bahwa dunia ini harus diubah. Itu saja. Aksi mogok makan, bukanlah strategi dan taktik terbaik seperti yang kita rata-rata ketahui dari buku dan eksperimentasi lapangan, tapi ia memilihnya karena hanya itu yang ia dapat pikirkan untuk lakukan. Dan ia melakukannya.

 

Persis sepuluh tahun yang lalu, sang ibu meninggal dunia atas aksi mogok makannya. Ia mati untuk apa yang ia yakini. Ia mati demi hidup yang ia tahu layak untuk dihidupi. Sebelum ia menutup mata, seorang kawan menggenggam tangannya, membujuk untuk terakhir kalinya agar ia menghentikan aksi mogok makannya mengingat kondisi sang ibu yang telah sedemikian kritis. Tapi sang ibu hanya tersenyum dan berkata teramat perlahan, “Urusan mati bukan di tangan kita, tapi kalaupun mati, aku ingin mati untuk apa yang aku yakini, biar aku tau untuk apa aku hidup.”

Posted at 06:41 pm by perangdancinta
Make a comment  

Saturday, December 05, 2009
Pertempuran di Jalanan adalah Pertempuran di Dalam Hati

Bimo adalah kawan lamaku dalam organisasi Leninis. Organisasi yang lantas kutinggalkan dengan segudang masalah yang mana aku terlibat dalam menimbulkan kekisruhan di dalamnya. Seluruh elit-elit pimpinan organisasi tersebut mencariku, menceramahiku, menawarkan gencatan dari kemelut, sekaligus semua menunjukku sebagai salah satu biang keladi kekisruhan. Kawan-kawan yang berdiri bersamaku tak bergeming di hadapan berbagai tudingan. Aku tak bergeming. Tapi aku ingat, bahwa hanya ada seorang yang menitikkan air mata kala aku beserta beberapa kawanku melancarkan serangan terhadap mereka. Ia adalah Bimo. Ia juga yang telah membantu kami untuk membuka mata dan mulai berdiri di atas kaki kami sendiri. Kaki-kaki yang pada akhirnya kami gunakan untuk meninggalkan mereka, setelah sebelumnya menendang mereka.

 

Beberapa saat lalu, secara tak sengaja kami bertemu kembali. Bimo masih seperti dulu. Bahkan ia juga masih berada dalam organisasi yang sama, walaupun posisinya kini berbeda. Ia membuka kontakku dengan beberapa kawan lama yang telah sekian lama terlupa. Aku terlibat cukup intens selama beberapa saat. Hanya beberapa saat saja, hingga aku menyadari bahwa mereka sama sekali belum berubah barang satu mili sekalipun. Aku kembali menutup kontakku.

 

Menyadari perilakuku, Bimo kini mengejarku. Meyakinkanku bahwa perjuangan tersebut tidak seharusnya boleh berhenti. Aku tak berucap apapun di tengah serangkaian kalimat-kalimatnya. Tak sedikitpun juga, hingga akhirnya ia berkata, “Jadi lo nyerah nih sekarang, sementara kapitalisme masih kuat? Nyerah lo sekarang setelah lo sekarang bisa punya gaji tetep dan banyak barang?”

 

Aku menatapnya tajam dan bersiap untuk meresponnya dengan fisik apabila ada kata-kata yang salah lagi terucap dari mulutnya. Tapi aku mengurungkan niatku, Bimo tetaplah kawanku. Ia hanya tak mengerti. Ia hanya tak dapat mengerti.

 

Perang yang kulancarkan bukanlah sekedar perang kelas antara yang berpunya dan tak berpunya. Musuhku memporakporandakan seluruh manusia dalam segala kelasnya, segala posisi, status dan tipenya. Perangku juga bukanlah perang perebutan uang dan kekuasaan. Musuhku memeras hasil dari kondisiku sebagai korban, yang juga mendapatkan keuntungan dari keberadaan musuhku. Semuanya setara pada akhirnya.

 

Apabila hidupku adalah senjataku, maka depresiku menjadi kelemahanku. Musuhku menyerang apapun tanpa penyesalan ataupun penghormatan atas apapun yang eksis sebelum dirinya. Perangku bukanlah sebuah perang konvensional. Revolusiku tak akan mungkin disiarkan di televisi ataupun didokumentasikan.

 

Musuhku tak menaruh respek pada apapun. Perangku bukanlah perang demi kesetaraan. Musuhku ada di mana-mana. Mereka memanifestasikan dirinya dalam segala sesuatu yang hadir di tengah masyarakat dan kehidupanku. Hidupku adalah sebuah penciptaan, bukan kelahiranku, bukan kemanusiaanku, melainkan hidupku. Apapun yang kulakukan adalah reaksi atas stimulus yang mereka berikan. Tidakkah engkau menyadarinya?

 

Kemanapun engkau pergi, apapun yang engkau lakukan, merekalah yang bertanggungjawab. Mereka mengontrol segalanya. Mungkin esok hari mereka akan mengambil alih sisanya. Engkau bukanlah apa-apa. Bagi mereka, engkau hanyalah sebuah sekrup dari mesin gigantik yang dapat dipergunakan untuk memperkokoh mereka untuk berdiri.

 

Perangku adalah sebuah perang total. Ia bermula jauh sebelum aku lahir dan dapat mengingat. Inilah mengapa mereka dapat dengan mudah memenangkan setiap perang yang dilancarkan melawan mereka. Mereka memiliki keuntungan dan keabadian. Keabadian mereka adalah mimpi tergelap di mana populasi tak dapat bangun darinya, di sini lah mereka menemukan kemenangannya.

 

Musuhku memiliki kekuatan industrial dan kepuasanku, kepuasanmu, nilai hidup kita, diinduksikan oleh media-media mereka, citra-citra mereka, bebunyian mereka, kata-kata mereka, yang uniknya mengglorifikasikan kebebasan.

 

Bagaimana bisa engkau mengeluhkan, mempertanyakan, soal hidup, saat engkau tak pernah tahu apa artinya menjadi hidup? Bagaimana kita semua bisa? Bagaimana bisa seseorang berkata pada seseorang lainnya soal bagaimana caranya untuk hidup?

 

Hidup adalah perjuangan. Ketakutan. Kecemasan. Penindasan. Penyensoran. Otoritas. Semua berkontribusi dalam seluruh perjalanan kita dari tahun ke tahun, hingga kita menutup mata. Seluruhnya adalah inkarnasi musuhku.

 

Perangku adalah perang demi sesuatu, bukan melawan sesuatu ataupun menguasai sesuatu. Perangku hanyalah meruntuhkan seluruh hambatan yang mereka bangun di sepanjang jalur pencapaianku. Perangku, adalah perang demi hidup.

 

Aku, dirimu, kita semua, dikorbankan. Tak ada seorangpun yang meminta ijin pada kita.

 

Akui atau sangkal semau kita, tetapi satu hal yang kita semua tahu, adalah bahwa kita semua telah dikalahkan sebelum kita lahir ke dunia ini. Diriku dan juga dirimu. Kita tak dapat yakin atas apapun juga. Di sinilah posisi kita.

 

Dua orang sedang berada dalam sebuah bak mandi yang penuh berisi bensin. Keduanya memegang obor. Seorang yang berbadan lebih besar memiliki roti, atau yang ia klaim sebagai miliknya dan menuntut hak atas kepemilikan; ia mencurinya dari orang yang lebih kecil yang tak pernah merasa memiliki hak kepemilikan atas apapun. Orang yang besar tak akan menjatuhkan obor sepanjang bak tetap penuh berisi bensin, dan ia akan terus menerus mempersuasikan agar orang yang kecil juga tak menjatuhkan obor dengan alasan apapun yang terpikir olehnya, termasuk memberi orang yang kecil remah-remah roti untuk sekedar menghilangkan lapar. Orang yang besar menghabiskan hari-harinya berpikir tentang bagaimana cara merebut obor dari orang yang lebih kecil. Maka hal pertama yang ia lakukan adalah meyakinkan orang yang lebih kecil, bahwa keduanya memiliki keuntungan yang sama, atas bensin. Atas bensin. Bukan roti.

 

Sebagai orang yang lebih kecil, tentu aku, dirimu, tahu apa yang seharusnya dilakukan. “It was a pleasure to burn,” ujar Guy Montag dalam Fahrenheit 451.

 

Aku membalikkan badan dari Bimo dan melangkah pergi meninggalkannya sendiri, seraya berkata, “Saya nggak pernah nyerah, Mo. Tapi kamu nggak pernah ngerti.”

Posted at 11:15 pm by perangdancinta
Make a comment  

Saturday, November 21, 2009
Pertempuran di Jalanan adalah Pertempuran di Dalam Hati

By the river of Babylon

There we sat down, yea, and wept

We hung our harps upon the willow

In the midst of it.

 

 

"Kamu percaya surga?" perempuan ini bertanya padaku.

 

Apabila aku berkata ya, maka mungkin itu adalah kebohongan. Aku tahu aku brengsek, dalam saat saat sulit, seperti kebanyakan orang lainnya, aku berpaling pada alkohol. Aku menyukai alkohol karena ia memiliki banyak kegunaan, antara lain: mengenyahkan perlunya alasan, membuat indah hal-hal yang apabila sadar akan tampak buruk, mencuci perutku, mencerahkan intelejensi mereka yang bebal, mendorong keberanian, meringankan badan dan pikiran, membuka pembicaraan, memulai persahabatan dengan kacang, aku pernah menjadi vokalis sebuah grup musik punk rock dan aku memainkan peran tersebut dengan baik karena setiap kali aku tampil aku selalu mabuk dan berpikir bahwa aku adalah seorang vokalis yang baik—lagipula bukankah seorang musisi punk hanya dapat tampil sempurna apabila ia mabuk?

 

Lantas, apabila aku berkata ya, bukankah ia akan berpikir bahwa surga dan alkohol adalah sesuatu yang saling bertolak belakang? Dan ia akan berpikir bahwa aku sedang berbohong. Kuakui aku sedikit berbohong. Mungkin. Karena selain alkohol, sesungguhnya aku menyukai mushroom—hingga pengalaman terakhirku menggunakannya belum juga mampu membuatku ingin mencobanya lagi. Mushroom, jamur putih hitam yang tumbuh di atas kotoran sapi kala hawa subuh cukup dingin, membuatku mampu berjumpa dengan malaikat. Sebuah sekte sufi di Timur Tengah abad pertengahan, dikabarkan menggunakan hashish sebagai instrumen pelengkap dalam ritual spiritual mereka. Beberapa suku indian di Amerika menggunakan kaktus jenis tertentu untuk mencapai tingkat spiritual yang diinginkan, untuk berbincang dengan dewa-dewa mereka. Dr. Timothy Leary, mantan dokter pemerintah federal Amerika, yang melakukan penelitian mengenai LSD berakhir dengan bertransformasi menjadi seorang penceramah spiritual yang meninggalkan segalanya.

 

Apabila aku berkata bahwa saat aku dalam keadaan trance aku justru menemui kondisi spiritual dan bertemu malaikatku, apakah aku akan dianggap sebagai pembual? Bukankah kita semua sesungguhnya memiliki malaikat kita sendiri? Memang, ini bukanlah sebuah pengalaman baru—bukan kondisi trance-nya yang kumaksud, tapi mengenai perjumpaan dengan malaikat. Saat kanak-kanak, banyak dari mereka yang memiliki "kawan rahasia", kawan yang tak pernah dapat dibagi dengan siapapun, kawan tak terlihat yang hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh sang anak itu sendiri. Kawan yang dapat menjadi peneman dalam perbincangan yang lama, peneman bermain, yang memperingatkan akan adanya bahaya dan ancaman. Anak-anak yang polos memilikinya, hingga satu titik para orangtua akan menyadari bahwa anak-anak mereka berbicara dengan "sesuatu yang tidak eksis". Sang anak akan dituduh kurang beradaptasi secara sosial, tak dapat mengontrol imajinasi, memiliki masalah psikologis, dan berakhir dengan paksaan pada sang anak untuk tidak lagi melakukan kebiasaan tersebut.

 

Mungkin para orangtua lupa bahwa mereka juga pernah memiliki kawan lain yang tak terlihat kala mereka kanak-kanak. Atau mungkin kita semua kini dididik untuk hanya percaya pada apa yang tampak oleh mata kita, kita diajari untuk tidak lagi mempercayai intuisi dan insting. Kita dibesarkan dalam dunia yang tak lagi memiliki tempat bagi malaikat. Suara-suara yang hadir dari alam bawah sadar kita, suara-suara intuisi, kini tergantikan oleh suara-suara musik dari ponsel, MP3 player dan i-Pod—suara dari manusia lain, yang hidup di tempat dan waktu yang lain. Hingga kita lupa bagaimana cara mendengarkan suara dari dalam diri kita sendiri. Suara malaikat. Apabila engkau masih mendengar suara-suara, di dunia modern ini, kita hanya akan disarankan untuk mengunjungi psikiater.

 

Lantas apakah aku juga membual apabila kukatakan bahwa aku kadang membutuhkan instrumen untuk mengingatkanku akan keberadaan malaikat? Bahwa aku membutuhkan alat untuk mengundang kembali malaikat yang pernah terbang meninggalkan diriku? Aku hanya percaya bahwa mereka akan kembali hadir setiap saat aku mengundang mereka untuk hadir—tidak dalam keadaan marah, tapi dalam keheningan dan kondisi yang sublim. Apabila mereka hadir dalam amarah, kita biasa menyebutnya sebagai kondisi kesurupan. Orang-orang tua berkata pada anak-anaknya, "Jangan melamun, nanti badanmu dimasuki setan." Ada sedikit kebenaran dalam ucapan tersebut. Dalam kondisi kehampaan, seseorang memasuki fase trance, bagian-bagian tertentu dari otak kita membuka sekaligus membentuk lingkaran yang sempurna—sebuah penelitian ilmiah juga pernah membuktikan hal tersebut. Kondisi tersebut adalah apa yang dicari oleh para pelaku zazen, pelaku semedi, pelaku shalat, penari darwis, pemabuk. Kondisi tersebut yang seringkali dicapai tanpa sadar oleh mereka yang sedang melamun.

 

Masalahnya seringkali kita tak dapat mengintegrasikan kondisi trance tersebut dengan keduniawian kita. Apa yang terjadi seringkali adalah ekses-ekses perilaku merusak dari para pemabuk, kesurupan, kegilaan. Seperti kubilang tadi, kita lupa caranya.

 

Nietzsche menemukan jalur spiritualnya dan ia menjalaninya; sang tua Marx menghidupi perang spiritualnya melalui kobaran perang kelasnya; Sabate yang tewas di tangan jajaran kepolisian pemerintahan Franco; para Nihilis yang mengobrak-abrik kekuasaan Tsar di Russia sebelum kejayaan Bolshevik; Iqbal yang menghembuskan nafas terakhir dalam kesendirian; Che yang memilih tewas untuk mengejar surga yang ia damba daripada duduk sebagai birokrat; Duchamp yang menemukan spiritualitas dalam dunia catur; drag racer yang menemukan keheningan dalam sepuluh detik kecepatan tinggi laju mobilnya; Kaczynski yang menjalani perangnya dalam upaya menjalani jalan spiritualnya; Henry Miller dan pengembaraan serta perempuan-perempuan cantiknya.

 

Kaum muslim meyakini keberadaan 25 rasul dan nabi. Aku percaya bahwa rasulku jauh lebih banyak, kadang hadir dalam peran yang sangat antagonis, tapi peran mereka semua sama. Bahwa mereka semua hanyalah contoh bagi dunia, bagi orang-orang yang cukup sensitif untuk dapat membuka diri. Mereka adalah orang-orang yang berani meniti jalan menuju mimpi dan bersedia menanggung resiko yang seringkali tak terperi demi apa yang mereka yakini.

 

Ya. Aku percaya keberadaan surga. Tapi surgaku bukanlah suatu tempat yang mana aku akan menuju. Surgaku adalah justru tempat di mana aku berjalan pulang. Aku hanya ingin pulang. Apa yang kucari dan kulakukan, dengan alkohol, dengan naskah-naskah menggelora para anarkis, dengan puisi dan teks ilmiah Marxian, dengan tubuh-tubuh perempuan cantik, adalah jejak untuk kembali berpulang. Sebagian orang berkata mereka ingin hidup seribu tahun lagi, aku justru cemas apabila aku dapat hidup seribu tahun lagi.

 

Tapi aku masih tak mampu menjawab pertanyaan perempuan tadi, tentang apakah aku percaya akan keberadaan surga. Aku hanya tak dapat menjabarkan apa yang kurasa dengan sekedar sederet kata-kata.

Posted at 08:23 pm by perangdancinta
Comments (5)  

Next Page

Utsukushisa To Kanashimi To



“Melancholy is sadness that has taken on lightness.”
-Italo Calvino

"People living deeply have no fear of death."
-Anais Nin

"The only antidote to mental suffering is physical pain."
-Karl Marx




Dedicated for Ms.Ishtar, my northern star


No real name down here, please!
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

I could feel at the time
there was no way of knowing
Fallen leaves in the night
who can say where they’re blowin’
As free as the wind
hopefully learnin’
As the sea at the tide
has no way of turnin’
More than this
you know there’s nothin’
More than this
tell me one thing
More than this
there’s nothin’



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed