“Melancholy is sadness that has taken on lightness.”
-Italo Calvino
"People living deeply have no fear of death."
-Anais Nin
"The only antidote to mental suffering is physical pain."
-Karl Marx
I could feel at the time there was no way of knowing Fallen leaves in the night who can say where they’re blowin’ As free as the wind hopefully learnin’ As the sea at the tide has no way of turnin’ More than this you know there’s nothin’ More than this tell me one thing More than this there’s nothin’
Aku menggenggam ponselku. Dan kuputar satu-satunya lagu yang kusimpan dalam ponselku. Ray Charles.
Ini adalah malam terakhir di mana bulan bersinar tampak terang, walau ia bukan purnama. Aku belum ingin melangkah memasuki kamar kosanku, walaupun kakiku terasa pegal setelah perjalanan memutar yang aku sengaja menempuhnya. Aku duduk di seberang rumah kosan, di antara dua buah pot tanaman yang tumbuh terlalu tertata hingga tak nampak alami lagi. Aku meluruskan kedua kakiku. Malam ini bintang tak terlalu banyak bertaburan.
Kugenggam ponselku. Kulirik sebentar. Tak ada pesan sama sekali. Entahlah, dalam beberapa hari ini aku selalu berharap akan ada pesan masuk darinya. Tapi tidak. Setiap kali pesan darinya masuk, pembicaraan kami selalu berujung pada pedih yang meradang. Aku menggenggam ponselku erat. Haruskah kukirim permintaan maaf? Tapi bukankah setiap pesan, permintaan maaf sekalipun, kini selalu berakhir dalam kekisruhan? Antara mengirimkan pesan dan menahannya, aku merasa diriku tercabik.
Aku masih menggenggam ponselku.
Those happy hours, that we once knew
Tho' long ago, they still make me blue
They say that time, heals a broken heart
But time has stood still, since we've been apart
Terasa sesuatu yang berat dan penat menohok bagian belakang kepalaku. Keringat dingin mengalir. Atau mungkin angin dingin yang menghembus wajahku. Aku tak yakin. Aku hanya merasa wajahku, kepalaku, dingin. Aku menunduk. Kutumpukan kening di tanganku. Kupejamkan mata.
Tak ada sesuatu yang terjadi. Apa yang kurasa hanya bahwa dingin ini merambat pada tubuhku. Punggungku. Perlahan aku membuka mata dan kusandarkan punggungku di tembok.
Malam ini bintang teramat sedikit. Terlalu sedikit. Aku masih menggenggam ponselku yang menyenandungkan suara berat Ray Charles. Tak terasa mulutku ikut menyenandungkan nada-nada sendu tersebut...
(I can't stop loving you)
I said I made up my mind
To live in memory of the lonesome times
(Sing a song, children)
(I can't stop wanting you)
It's useless to say
So I'll just live my life of dreams of yesterday
(Of yesterday)
Ada ruang yang kini kosong. Kekosongan yang juga tak ingin kuisi lagi selain bagi dirinya. Aku menggenggam ponselku. Tangan kiriku meraih plastik yang sedari tadi kubiarkan tergeletak di sampingku. Aku tahu ini tak akan terlalu banyak membantu. Aku tahu saat terakhir aku mengonsumsinya, tubuhku bereaksi dengan buruk. Tapi malam ini, aku tak ingin melewatinya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Aku hanya ingin melayang dan terbuai. Walau hanya malam ini. Walau hanya kali ini. Walau esok hari kembali berputar seperti sebelumnya. Aku menarik nafas, dan perlahan aku menyedot arak dalam plastik ini sedikit demi sedikit...