Utsukushisa To Kanashimi To
I am only human. Lived in Jakarta but somehow left parts of my heart somewhere else. This blog is about getting on with things as they are. The disasters are all about continuity, about finding ways of enduring in the face of hopelessness; what we do deals in the need to find ways of telling truth in a postmodern world of rumbling emotional chaos. My writings are about both; about bearing the unbearable and giving a true account of it.
Dedicated for all my past, present and future lovers and my one and only beautiful pet. For all the ladies I love and all the ladies I lost. I will always miss you all.
No real name down here, please!
“Melancholy is sadness that has taken on lightness.”
-Italo Calvino
"People living deeply have no fear of death."
-Anais Nin
"The only antidote to mental suffering is physical pain."
-Karl Marx
I could feel at the time there was no way of knowing Fallen leaves in the night who can say where they’re blowin’ As free as the wind hopefully learnin’ As the sea at the tide has no way of turnin’ More than this you know there’s nothin’ More than this tell me one thing More than this there’s nothin’
|
 |
| |
Tuesday, September 13, 2011 |
Epilog: Saat Pesta Telah Usai
Here's where the story ends
It's a little souvenir on the terrible years
That makes my life goes on
—The Sundays, Here's Where the Story Ends
Aku membuka tutup botol bir tersebut dengan pembuka botol kecil hijau yang kucuri sekian tahun lalu dari Hypermart. Kami mencicip sedikit demi sedikit melalui bukaan atasnya yang kecil, menelan buih-buihnya dan merayakan warna-warna yang berpendar menembus tubuh botolnya yang kehijauan. Warna-warna yang tertransformasikan, tapi tak pernah kehilangan warna aslinya. Warna-warna yang mengelilingi perkawanan kami, warna-warna yang menyelimuti hidupku.
Di waktu-waktu lain, aku minum bersama kawan-kawanku yang lain, dengan kakiku menyentuh kaki sang kekasih gelap yang duduk di seberangku dan saling berpagut kala bibir kami begitu berjarak.
Tetapi di sore ini, botol-botol kami yang saling bersentuhan. Bir merayakan kegembiraan. Bir dan alkohol yang baik, seperti perang dan cinta abadi, yang hadir berulang kali walaupun terkadang kekalahan begitu pahit dan kemenangan tak membawa kejayaan karena kita sibuk menjahit luka, karena seperti hidup, memabukkan bagi mereka yang tahu benar arti dari mabuk tetapi hanya terasa pahit di mulut dan hati mereka yang memang tak layak mendapatkannya.
"Seharusnya, inilah saat di mana kisahmu diakhiri," kawanku berujar.
Mungkin ia benar. Aku telah melampaui satu fase lain dalam hidupku, fase yang harus berhasil kulampaui untuk mampu melanjutkan ke fase berikutnya. Setiap kelahiran selalu membutuhkan kematian, ujar mereka yang pernah hidup di masa di mana hutan masih hijau dan sungai mengalir meneduhkan hati. Dan aku telah menemukan kematian dari apa yang selama ini begitu berharga bagiku. Kematian yang justru membuka tabir sesuatu yang baru. Kelahiran baru. Cinta lamaku telah terkubur menjadi debu sejarah hidupku dan sebuah cinta baru telah lahir dalam diriku—sesuatu yang berbeda dan tak pernah hadir sebelumnya dalam berbagai fase hidupku sebelumnya. Sebuah cinta yang tak menuntut, tak meminta. Sebuah cinta yang tak lagi membutuhkan intimasi seksual dan api yang membakar. Sebuah cinta yang teduh. Sebuah telaga yang menyejukkan di mana kita berkubang dalam anggur yang memabukkan tetapi tak pernah membuatku muntah. Sebuah oase. Laguna. Danau Biru. Kolam firdaus.
Kami meneguk dengan lambat di antara tawa. Memanjakan lidah dan lambung. Berbagi kisah dengan tak terburu-buru. Bersahabat dengan waktu.
Dalam hening dan kemabukkan yang sublim. Aku kini paham cara mengenang mereka yang pernah dekat dengan jiwaku dan membuat mereka tetap hidup. Mereka yang mana aku persembahkan dan tutup seluruh catatanku dalam fase ini.
Bagi satu-satunya lelaki yang hingga kini tak pernah kulupakan, yang pernah begitu dekat denganku seakan menjadi cermin bagi jiwaku, yang mana aku tak akan menukar walau dengan apapun juga tahun-tahun yang pernah kami lewati bersama: Octavianus Probo Areka.
Bagi para perempuan yang pernah—dan selalu kuharap tetap akan dekat—bersahabat denganku. Mereka yang mana beberapa di antaranya tak pernah melangkah pergi dariku. Mereka yang membawa pergi sekerat dari jantungku. Mereka yang mengerat milik mereka sendiri dan meletakkannya di lubang jantungku. Sahabat-sahabatku. Kawan-kawan dekatku. Mereka yang pernah berbagi sebagian kisah hidup dan membaginya dengan diriku walaupun hanya sekejap. Kalian tahu bukan kuantitas yang kuhargai lebih, melainkan kualitas waktu. Bagi kalian: Anita Yuanitasari, Anneke Fitrianti, Arcie Mercia, Maria Magdalena Dolorosa Farah Diena Harharah, Febe Rianti Siahaan, Hatra Septia Ardhani, Herawati Susanna Fajrin, Ivy Larocque, Kristina Wardhani, Mia Puspasari, Pipit, Rd. Roro Engel Pretty, Rina Sari Dewi, Yuni Nur Sapyera, Sheni Haryati Therik, Veronica Trifosa Kristiastuti, Winniati Sri Rejeki Suwargo.
Dan tentu, bagi satu-satunya perempuan yang hingga kini tetap menjadi sahabatku, peneman setiaku, cermin jiwaku; perempuan yang telah kupilih untuk melewatkan hidupku, perempuan yang di akhir fase kali ini kutemukan kembali, perempuan yang aku ingin melewati masa tuaku, melewati sisa fase-fase hidupku selanjutnya bersamanya, satu-satunya perempuan yang kunikahi dan menjadi isteriku: Monika Jalius.
Kini biarlah hidup menggariskan apa yang harus digariskan, biarlah hidup menentukan apakah kita akan berpapasan lagi di masa yang akan datang. Kalaupun garis hidup kita membuat kita berpapasan kembali, hal itu akan seperti momen saat kita berteduh sejenak di tengah badai yang datang berulang. Biarlah takdir yang menentukan. Kita semua tak lebih dari sekedar daun kering yang melayang ke sana kemari dihembus oleh angin sang takdir.
Bagi kalian semua, di sini catatan dalam fase ini kuakhiri. Mari kita bersulang, untuk mereka yang kita cintai dalam hidup kita dan mereka yang pergi dari hidup kita. Toast.
*****
Stuck on you I've got this feeling down deep in my soul that I just can't lose Guess I'm on my way Needed a friend And the way I feel now I guess I'll be with you 'til the end Guess I'm on my way Mighty glad you stayed
I'm stuck on you Been a fool too long I guess it's time for me to come on home Guess I'm on my way So hard to see That a woman like you could wait around for a man like me Guess I'm on my way Mighty glad you stayed
Oh, I'm leaving on that midnight train tomorrow And I know just where I'm going I've packed up my troubles and I've thrown them all away 'Cause this time little darling I'm coming home to stay
I'm stuck on you I've got this feeling down deep in my soul that I just can't lose Guess I'm on my way Needed a friend And the way I feel now I guess I'll be with you 'til the end Guess I'm on my way I'm mighty glad you stayed
—Lionel Richie, Stuck on You
Kala pesta telah usai dan tamu-tamu melangkah pulang, apa yang tersisa tak lain hanya gelas-gelas kosong, botol-botol berserakan di mana-mana, beberapa bekas muntah dan air ludah. Tak ada pelayan yang membersihkan semuanya, walau aku tahu, mereka yang menjadi sahabatku, akan tetap berada di suatu tempat bersamaku. Pesta ini usai, sebuah fase telah turut berakhir. Di sini semua harus diakhiri dan hidupku kembali bermula, tepat dalam waktu musim yang membersihkan segalanya. Di waktu musim hujan. Tak ada pelayan memang, tapi semoga hujanlah yang akan membersihkan segalanya. Klik di sini.
Posted at 11:47 am by perangdancinta
Permalink
Hidup yang Indah: Pelukan Terhangat di Musim Terdingin
I should be so lucky.
—Kylie Minogue
And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won't be alone, cause I'll be there.
—Tommy Page, Shoulder to Cry On
Kehilangan seseorang yang kita cintai adalah sebuah tragedi. Tapi apabila karenanya kita menutup mata atas cinta yang ada di sekitar kita, hal itu berarti bencana. Kini, saat seorang kekasih pergi dariku dan meruntuhkan hatiku, saat diriku terjatuh dalam jurang nestapa—dunia menjadi ironis, karena aku bertanya pada hatiku, apakah aku berada dalam kemalangan, ataukah aku justru beruntung?
Apabila cinta memang membawa seseorang ke ambang kegilaan, aku jelas sependapat. Demikian pula yang terjadi saat ia yang terkasih pergi. Selama lima hari lamanya, aku tak dapat menelan makanan. Hal tersebut menjadi lebih buruk karena aku juga nyaris tak dapat menutup mataku setiap malam. Aku hanya mengonsumsi alkohol, karena zat tersebutlah yang dapat membantuku untuk menutup mata.
Tapi dalam momen demikianlah aku justru menemukan apa yang tak kusadari selama ini...
Saat bobot tubuhku menyusut akibat konsumsi alkohol yang berlebihan dan tak diimbangi dengan asupan makanan dan tidur yang baik, seorang kawan kosku memasakkan makan siang untukku dan mengajakku duduk bersamanya, menyediakan telinganya untukku. Saat aku tak mampu mengerjakan sejumlah pekerjaanku, managerku membantu menyelesaikan kerja-kerjaku yang terlantar. Ia juga mengajakku beberapa kali untuk makan siang bersamanya, sekedar agar perutku terisi. Ia juga yang setiap hari mengajakku duduk di beranda ruang kerjaku, berbagi kisah hidupnya denganku, sekedar agar aku tak merasa seorang diri di kota yang mendadak penat ini. Seorang kawan perempuanku di Bandung, menemaniku siang dan malam walaupun hanya melalui teks SMS, untuk menampung keluhan-keluhan kesedihanku. Ia bahkan berencana untuk mengunjungi dan menemaniku di Jakarta. Seorang perempuan sahabat dekatku di seberang pulau, juga menyediakan dirinya sebagai penampung segala resahku. Apabila ia berada dalam kondisi finansial yang baik, aku tak akan terkejut apabila ia akan melayang menemaniku. Aku tahu ia akan melakukannya untukku. Beberapa kawan lelakiku, menemani diriku yang terpuruk dan seakan tak kuasa bangkit, walaupun dengan cara sekedar berbagi alkohol melewati malam. Menemaniku melupakan kesedihanku. Seorang kawan baru bahkan juga rela mengantarkan alkohol ke kantorku, tanpa merasa perlu mendapat imbalan apapun.
Apa yang terbaik yang dapat kuharapkan, selain hal-hal tersebut?
Tetapi di samping segala kebaikan tersebut, satu hal yang membuatku merasa teramat sangat beruntung, adalah justru keberadaan isteriku. Perempuan yang selama ini tak pernah pergi dari sisiku, walaupun ia paham benar bagaimana perilakuku, bagaimana relasiku dengan perempuan-perempuan dan kekasih-kekasih yang lain, serta bagaimana aku pernah menghancurkan hatinya. Ia yang pernah kusakiti hatinya teramat dalam tapi tak juga meninggalkanku.
Isterikulah yang begitu mengetahui hatiku yang terluka, mengatur jadwalnya agar ia dapat menemaniku di Jakarta. Ia juga yang bersedia menyediakan tiket bagi seorang sahabat perempuanku yang lain untuk hadir di sisiku, apabila aku menginginkannya. Ia yang meminta seorang kawanku di Jakarta untuk hadir menjagaku dan selalu menanyakan kabar terbaruku melaluinya. Ia juga yang saat mengetahui aku hancur, memelukku setiap pagi untuk membantuku mengusir pedih dan membukakan mataku bahwa sebuah hari tak seharusnya dibuka dengan air mata. Ia juga yang terus menerus memberiku saran dengan tak kunjung lelah, untuk tetap membuka diri dan hati.
Isterikulah yang tak pernah urung membantu membuka jendela hatiku. Membiarkan sinar mentari yang hangat menerangi relung-relung hatiku yang lebam dan sendu setelah nyaris sebulan kehilangan kekasih hatiku. Ia, yang dalam deritanya sendiri, rela menyediakan hidupnya untukku, memelukku dan memberiku hangat kala seisi dunia terasa dingin menyayat.
Setiap kali aku menyadari hal ini, aku tahu, aku masih begitu dilimpahi berkah berlimpah. Aku mungkin kehilangan kekasihku, tapi bukankah aku juga disadarkan akan karunia lain yang begitu besar, yang selama ini mungkin tak kusadari, ada di sekitarku dan tak pernah jauh dariku? Aku terlalu berkutat pada rasa pedih akibat kehilangan seorang kekasih dari sisiku, sementara begitu menyadari hal tersebut isteriku memberikan apa yang terbaik yang ia mampu untuk merawat dan memulihkan lukaku.
Apa yang lebih baik, yang layak kudapatkan, selain hal tersebut?
Manusia memang memiliki kecenderungan untuk mampu melihat hal-hal yang jauh, tetapi kehilangan kemampuan untuk mensyukuri, merayakan, apa yang terdapat di sampingnya. Persis sebagaimana kita seringkali tidak menyadari keberadaan udara yang kita hirup—saking terbiasanya kita bernafas, kita tak lagi menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang istimewa—sampai suatu saat kita kehilangan kemampuan untuk bernafas. Mungkin akan terdengar konyol apabila kalimat berikut keluar dari mulutku yang tak dapat bersetia hidup hanya bersama isteriku, tanpa kehadiran kekasih-kekasih dan perempuan lain di sisiku, tapi sungguh, ia adalah penyelamat luka hatiku. Ia malaikatku.
"Kamu percaya malaikat?" aku ingat kawanku pernah bertanya padaku sekian tahun silam. Dulu aku ragu—sebagaimana seorang materialis meragukan apapun yang tak dapat dipahami oleh indera. Tapi seandainya ia kembali bertanya padaku sekitar lima tahun lalu, aku akan menjawab dengan mantap: ya, aku percaya.
Mungkin kawanku tersebut akan mentertawakanku. Tapi aku tak peduli. Toh, malaikat memang hanya akan hadir dan menampakkan dirinya pada mereka yang percaya. Dan aku percaya. Tetapi apa yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang, malaikat tidak hadir dalam bentuk karakter dalam film-film kartun di layar televisi. Malaikat hadir dengan menggunakan diri orang lain.
Malaikat hadir melalui diri kekasih yang meninggalkanku, untuk menyadarkanku akan kesalahan-kesalahanku. Ia hadir dengan wajah kematian yang kejam. Tapi di sisi lain, malaikat juga hadir melalui diri isteriku, yang dengan penuh kesabaran menjaga dan menemaniku kala aku terpuruk pilu. Tak ada kata yang sepadan untuk dapat kuungkapkan kepada mereka, karena aku tahu benar bahwa ucapan terima kasih amatlah sangat tak cukup.
Aku telah mengalami patah hati terburuk dalam hidupku, tapi aku juga justru sedang dimabuk cinta. Dan sebagaimana aku paham benar sebagai seorang pemabuk, yang selalu menginginkan alkohol yang memabukkan lagi dan lagi kala sedang mabuk, demikian juga dengan cinta yang memabukkan, sensasinya tak pernah cukup, tak akan pernah bagiku. Patah hati, alkohol dan sensasi jatuh cinta ini terlalu memabukkan. Ah, tidakkah hidup ini demikian indah?
Posted at 08:09 am by perangdancinta
Permalink
| |
Saturday, August 13, 2011 |
Sesuatu Bernama Kenangan: Hukuman dan Penebusan
Maybe I didn't love you
Quite as often as I could have
And maybe I didn't treat you
Quite as good as I should have
Bossku berkata bahwa aku harus pergi ke Kemang siang tadi, untuk membereskan sebuah pekerjaan. Tempat yang kutuju terletak di Kemang Icon, yang terletak tak jauh dari toko buku Aksara. Toko buku yang dulu sering kukunjungi. Ya. Dulu. Sebuah lapangan parkir yang tak terlalu luas terhampar di bagian depannya. Dengan palang besi rendah dipasang untuk pembatas mobil yang diparkir di sana. Tak ada satupun mobil terparkir di sana siang tersebut.
Aku berdiri di seberang jalan, menatap tempat tersebut. Tak ada yang berubah walaupun nyaris setahun lamanya aku tak lagi mengunjunginya. Perlahan, samar, aku melihat diriku sendiri dan dirimu di sana. Aku mengedip-kedipkan mataku. Gambaran tersebut semakin jelas. Aku melihat diriku bersamamu di lapangan parkir tersebut. Aku, yang sibuk berjalan meniti palang besi pembatas parkir dengan satu tangan bertumpu pada bahumu, yang perlahan melangkah di sisiku. Kami berjalan dalam diam, tapi aku melihat jelas mata kami berbinar, seakan menyedot seluruh energi matahari ke dalam kedua pasang mata kami.
Aku masih terpaku di seberang saat pandanganku kini menerawang memasuki toko buku yang berdinding kaca lebar. Tak terlihat siapapun di dalam sana selain kedua orang penjaga toko berseragam hitam. Tapi, lagi, perlahan aku melihat dirimu di salah satu deretan buku. Dirimu yang dengan mata riang menunjukkan padaku sebuah buku. Marquis de Sade, dengan ilustrasi sampul yang begitu indah. Buku yang tak lama kemudian kau selipkan dalam tasmu dengan sedikit gugup.
Aku tertawa melihat apa yang kau lakukan. Keras mungkin, karena seorang lelaki yang sedang berjalan melewatiku di pinggir jalan ini mendadak berhenti dan menatapku heran.
If I made you feel second best
Girl, I'm sorry I was blind
You were always on my mind
You were always on my mind
Seberesnya di Kemang, hari telah beranjak sore. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini. Aku harus melakukan peninjauan lokasi di Plaza Indonesia untuk dapat memutuskan mana lokasi yang tepat untuk menempatkan patung-patung yang sedianya akan dipamerkan di sana. Maka aku segera meluncur ke Bunderan HI.
Di depan Plaza Indonesia, di pintu masuk yang persis menghadap air mancur, aku berjalan lambat kala aku melihatmu. Dengan rambut pendek, celana kelabu dan Converse merah terang, engkau, yang dengan berlari-lari kecil menuju tempatku melangkah dengan senyum mengembang. Senyuman yang baru kusadari saat ini begitu kurindukan. Aku mengangkat tangan melambai padamu.
Tapi aku mendadak terpaku saat sosok perempuan di hadapanku menatapku heran. Tidak. Mendadak ia tidak lagi berambut pendek, tidak juga mengenakan celana kelabu dan Converse merah.
Ia bukan dirimu. Tidak. Apa yang kulihat tadi? Apakah otakku bermain-main denganku?
And maybe I didn't hold you
All those lonely, lonely times
And I guess I never told you
I'm so happy that you're mine
Bus Transjakarta jurusan Blok M kini telah tiba di pemberhentian akhirnya. Aku melangkah keluar, berjalan menuju gerbang keluar terminal. Aku baru saja melompati pagar pembatas, kala, lagi-lagi, aku tak kuasa mengontrol penglihatanku.
Kini kulihat dirimu sedang duduk sebuah beton pembatas jalan. Dan ada diriku duduk di sisimu. Engkau dengan rambut pendekmu yang sibuk mengeluhkan tanganmu yang kekuningan setelah memegang buah mangga—yang artinya buah tersebut telah dicelup oleh sang penjualnya ke dalam pewarna sintetis. Di sebelahmu, aku melihat diriku hanya tersenyum, lantas malah mengumpat soal lamanya bus P67 datang. Hari-hari itu... mengapa itu semua terasa indah justru saat semua telah berakhir? Keluhan-keluhanmu, senyummu, sifat manjaanmu, rajukanmu. Semua. Kenapa?
Seorang kawan, berkata bahwa itu adalah tragedi manusia. Manusia diciptakan demikian, untuk selalu belajar memahami hidup dengan cara yang luar biasa keras dan menyakitkan. Kita, manusia, akan selalu menyadari sesuatu itu berharga hanya kala kita kehilangannya. Sebagaimana sebagai kekasih, bantingan di pintu kala pasangan kita pergi, adalah alarm yang berbunyi saat semua sudah terlalu terlambat. Dan bagiku, berpalingnya kasihmu yang luar biasa besar, adalah alarm yang terlambat tersebut. Seandainya sebagai manusia kita tak demikian, maka mungkin dunia tak akan seberantakan ini, dan Tuhan tak perlu memberi iming-iming surga yang indah—toh dunia sudah indah dan baik-baik saja. Ah, diriku... Manusia, aku, diriku tak lebih dari sekedar manusia. Ah, aku telah menyia-nyiakan cintamu, bukan?
Seorang lelaki berkulit gelap tiba-tiba menyapaku keras, "Ada ape boss ngeliatin kite mulu? Mau nyari jurusan ke mana boss?"
Sontak aku tersadar. Di hadapanku, mendadak tidak lagi duduk diriku ataupun dirimu. Di hadapanku hanya ada seorang lelaki, kernet bus, bersebelahan dengan seorang perempuan penjual minum.
Little things I should have said and done
I just never took the time
But you were always on my mind
You were always on my mind
Di depan 7-Eleven, aku melompat turun dari Kopaja yang memang tak pernah benar berhenti kala sedang menurunkan penumpang. Kantorku memang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari 7-Eleven. Aku melayangkan pandanganku ke meja-meja di halaman toko tersebut, kala mendadak kulihat engkau sedang duduk di sebuah meja seraya mengunyah hotdog.
Tidak. Tidak lagi, batinku. Aku menutup mata sejenak, berusaha menguasai nyeri akibat remasan pada jantungku. Engkau tak ada di sana. Itu bukan dirimu. Itu bukan dirimu.
Tell me. Tell me that your sweet love hasn't died
Give me, one more chance to make you satisfied
Tuhan, tolong aku. Tidak. Aku tidak memintamu untuk mengenyahkan kekacauan mentalku. Sakitku adalah apa yang hadir atas semua hal yang kulakukan. Akulah yang telah menciptakan nerakaku sendiri. Dan apabila ini adalah hukuman bagiku, aku bersedia menjalaninya. Aku hanya berharap Engkau masih berbaik hati, memberiku kekuatan untuk menjalaninya.
Selama ini, aku mencintamu, kekasihku. Aku telah jatuh cinta padamu. Tetapi, seiring waktu berjalan, aku mulai melihat bahwa engkau memang tercipta untukku. Kau tak akan pergi dari sisiku. Bukankah engkau yang menyatakan bahwa kau tak dapat hidup tanpa diriku? Aku besar kepala. Aku terlalu yakin. Aku lupa, bahwa tak pernah ada yang abadi di atas dunia ini. Aku lupa pada wajah ramah sang waktu dan kematian. Waktu dan kematian sesungguhnya berwajah ramah, tapi ia hadir dengan berbagai topeng mengerikan saat kita semua lupa atas keberadaan dirinya. Bukankah kematianlah yang membuat kita menyadari betapa berharganya apa yang kita miliki saat ini?
Kematian, walau kita tak menyadarinya, bukankah ia juga yang membuat aku dan dirimu, memilih untuk bersama, sejak beberapa tahun lalu? Engkau mengkhianati kekasihmu, aku rela kehilangan kawan-kawanku dan meruntuhkan apa yang telah kubangun sejak dulu, engkau menerima pukulan dan ancaman dari kekasihmu demi melindungi diriku. Itu semua kita berdua lakukan karena kita menghargai kematian dan waktu. Engkau bahkan bersedia melakukan apapun demi diriku. Demi diriku. Tapi seiring waktu berjalan, aku lalai, aku lupa pada wajah ramah sang kematian. Aku alpa pada kesadaran bahwa kita hidup dengan batas akhir. Aku tak memperlakukanmu lagi dengan sepenuh cinta yang seharusnya mampu kuberikan. Aku tak memperlakukanmu lagi dengan sebaik yang aku mampu. Aku bahkan tak lagi menyambut kehadiranmu di sisiku dengan peluk dan cium sehangat yang dapat kuberikan. Aku lupa, bahwa aku tak pernah lagi merayumu sebagaimana yang selalu kulakukan dulu di awal cinta kita.
Aku menyia-nyiakan cintamu, kekasihku. Hingga kini aku sadar, setelah semua terlambat dan engkau pergi. Kematian yang berwajah ramah, hadir mengenakan topengnya yang mengerikan untuk memperingatkan diriku. Ya, diriku. Bukan dirimu. Memberiku pelajaran berharga soal hidup, hanya dengan cara yang seperti manusia lainnya, mampu kupahami—dengan cara yang menyakitkan: dengan cara mematikan hubungan kita berdua, kekasihku.
Kini aku sadar. Sang kematian, kini menunjukan welas asihnya kembali, ia memperlihatkan padaku betapa kini engkau mendapatkan kebahagiaanmu bersama lelaki lain. Lelaki yang kini engkau telah pilih di atas diriku, yang tentu akan kau lindungi juga sebagaimana dulu kau melindungiku. Tuhan adalah Maha Kasih, karena ia masih memberiku kemampuan untuk berbahagia justru di saat yang paling menyakitkan ini. Dari seluruh deritaku ini, di lubuk hatiku, aku menemukan secercah kecil kobaran api. Kobaran api yang hangat dan tak menghanguskan. Api yang masih membawa cintamu. Api yang memberiku bahagia hanya karena menyadari bahwa engkau kini berbahagia. Tuhan masih memberiku hal tersebut. Ia masih tersenyum padaku, yang ingkar dan lupa pada-Nya dengan cara mengabaikanmu selama ini, kekasihku.
Kekasihku, aku akan menyimpan apiku ini di ruang jantungku yang pernah kusiapkan dan selalu ada untukmu. Inilah api cintaku bagimu—yang hangat tapi tak membakar. Ijinkan aku untuk tetap menyimpannya bagi dirimu. Hanya dirimu.
Little things I should've said and done
I just never took the time
But you were always on my mind
You were always on my mind
Aku sadar, bahwa selama aku masih berada di kota ini, segala hal dan segala tempat akan mengingatkanku padamu. Aku pernah menjelajahi cukup banyak penjuru kota ini bersamamu. Engkau adalah gadis simpananku, piaraanku, partner kriminalku, budak seks-ku, kekasihku, sahabatku, peneman setiaku, penenang jiwaku. Engkau selalu ada untukku. Engkau adalah segalanya bagiku.
Terima kasih, melalui dirimulah, Tuhan dan Kematian mengingatkanku. Engkau adalah perwujudan cinta yang begitu indah. Sesuatu yang sayangnya kusadari dengan teramat terlambat. Kini biarkan aku menjalani hukuman bagiku. Aku harus menebus dosaku padamu. Dosa karena telah menyia-nyiakan cinta yang diberkahkan Tuhan bagiku, melalui dirimu. Inilah kesempatan kedua yang kuminta padamu. Tidak dalam bentuk kembali ke dalam relasi kita selama ini, tapi kesempatan untuk menjalani hukuman yang telah disiapkan untukku seorang diri. Karena akulah sang terhukum, bukan dirimu. Aku tahu, engkau akan selalu ada kala aku menjalaninya, sebagaimana yang belum lama ini kau janjikan padaku. Terima kasih, kekasihku. Engkau tetap segalanya bagiku.
You were always on my mind
You were always on my mind
—Willie Nelson, Always on My Mind
Posted at 07:06 pm by perangdancinta
Permalink
|