Saturday, November 21, 2009
Pertempuran di Jalanan adalah Pertempuran di Dalam Hati

By the river of Babylon

There we sat down, yea, and wept

We hung our harps upon the willow

In the midst of it.

 

 

"Kamu percaya surga?" perempuan ini bertanya padaku.

 

Apabila aku berkata ya, maka mungkin itu adalah kebohongan. Aku tahu aku brengsek, dalam saat saat sulit, seperti kebanyakan orang lainnya, aku berpaling pada alkohol. Aku menyukai alkohol karena ia memiliki banyak kegunaan, antara lain: mengenyahkan perlunya alasan, membuat indah hal-hal yang apabila sadar akan tampak buruk, mencuci perutku, mencerahkan intelejensi mereka yang bebal, mendorong keberanian, meringankan badan dan pikiran, membuka pembicaraan, memulai persahabatan dengan kacang, aku pernah menjadi vokalis sebuah grup musik punk rock dan aku memainkan peran tersebut dengan baik karena setiap kali aku tampil aku selalu mabuk dan berpikir bahwa aku adalah seorang vokalis yang baik—lagipula bukankah seorang musisi punk hanya dapat tampil sempurna apabila ia mabuk?

 

Lantas, apabila aku berkata ya, bukankah ia akan berpikir bahwa surga dan alkohol adalah sesuatu yang saling bertolak belakang? Dan ia akan berpikir bahwa aku sedang berbohong. Kuakui aku sedikit berbohong. Mungkin. Karena selain alkohol, sesungguhnya aku menyukai mushroom—hingga pengalaman terakhirku menggunakannya belum juga mampu membuatku ingin mencobanya lagi. Mushroom, jamur putih hitam yang tumbuh di atas kotoran sapi kala hawa subuh cukup dingin, membuatku mampu berjumpa dengan malaikat. Sebuah sekte sufi di Timur Tengah abad pertengahan, dikabarkan menggunakan hashish sebagai instrumen pelengkap dalam ritual spiritual mereka. Beberapa suku indian di Amerika menggunakan kaktus jenis tertentu untuk mencapai tingkat spiritual yang diinginkan, untuk berbincang dengan dewa-dewa mereka. Dr. Timothy Leary, mantan dokter pemerintah federal Amerika, yang melakukan penelitian mengenai LSD berakhir dengan bertransformasi menjadi seorang penceramah spiritual yang meninggalkan segalanya.

 

Apabila aku berkata bahwa saat aku dalam keadaan trance aku justru menemui kondisi spiritual dan bertemu malaikatku, apakah aku akan dianggap sebagai pembual? Bukankah kita semua sesungguhnya memiliki malaikat kita sendiri? Memang, ini bukanlah sebuah pengalaman baru—bukan kondisi trance-nya yang kumaksud, tapi mengenai perjumpaan dengan malaikat. Saat kanak-kanak, banyak dari mereka yang memiliki "kawan rahasia", kawan yang tak pernah dapat dibagi dengan siapapun, kawan tak terlihat yang hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh sang anak itu sendiri. Kawan yang dapat menjadi peneman dalam perbincangan yang lama, peneman bermain, yang memperingatkan akan adanya bahaya dan ancaman. Anak-anak yang polos memilikinya, hingga satu titik para orangtua akan menyadari bahwa anak-anak mereka berbicara dengan "sesuatu yang tidak eksis". Sang anak akan dituduh kurang beradaptasi secara sosial, tak dapat mengontrol imajinasi, memiliki masalah psikologis, dan berakhir dengan paksaan pada sang anak untuk tidak lagi melakukan kebiasaan tersebut.

 

Mungkin para orangtua lupa bahwa mereka juga pernah memiliki kawan lain yang tak terlihat kala mereka kanak-kanak. Atau mungkin kita semua kini dididik untuk hanya percaya pada apa yang tampak oleh mata kita, kita diajari untuk tidak lagi mempercayai intuisi dan insting. Kita dibesarkan dalam dunia yang tak lagi memiliki tempat bagi malaikat. Suara-suara yang hadir dari alam bawah sadar kita, suara-suara intuisi, kini tergantikan oleh suara-suara musik dari ponsel, MP3 player dan i-Pod—suara dari manusia lain, yang hidup di tempat dan waktu yang lain. Hingga kita lupa bagaimana cara mendengarkan suara dari dalam diri kita sendiri. Suara malaikat. Apabila engkau masih mendengar suara-suara, di dunia modern ini, kita hanya akan disarankan untuk mengunjungi psikiater.

 

Lantas apakah aku juga membual apabila kukatakan bahwa aku kadang membutuhkan instrumen untuk mengingatkanku akan keberadaan malaikat? Bahwa aku membutuhkan alat untuk mengundang kembali malaikat yang pernah terbang meninggalkan diriku? Aku hanya percaya bahwa mereka akan kembali hadir setiap saat aku mengundang mereka untuk hadir—tidak dalam keadaan marah, tapi dalam keheningan dan kondisi yang sublim. Apabila mereka hadir dalam amarah, kita biasa menyebutnya sebagai kondisi kesurupan. Orang-orang tua berkata pada anak-anaknya, "Jangan melamun, nanti badanmu dimasuki setan." Ada sedikit kebenaran dalam ucapan tersebut. Dalam kondisi kehampaan, seseorang memasuki fase trance, bagian-bagian tertentu dari otak kita membuka sekaligus membentuk lingkaran yang sempurna—sebuah penelitian ilmiah juga pernah membuktikan hal tersebut. Kondisi tersebut adalah apa yang dicari oleh para pelaku zazen, pelaku semedi, pelaku shalat, penari darwis, pemabuk. Kondisi tersebut yang seringkali dicapai tanpa sadar oleh mereka yang sedang melamun.

 

Masalahnya seringkali kita tak dapat mengintegrasikan kondisi trance tersebut dengan keduniawian kita. Apa yang terjadi seringkali adalah ekses-ekses perilaku merusak dari para pemabuk, kesurupan, kegilaan. Seperti kubilang tadi, kita lupa caranya.

 

Nietzsche menemukan jalur spiritualnya dan ia menjalaninya; sang tua Marx menghidupi perang spiritualnya melalui kobaran perang kelasnya; Sabate yang tewas di tangan jajaran kepolisian pemerintahan Franco; para Nihilis yang mengobrak-abrik kekuasaan Tsar di Russia sebelum kejayaan Bolshevik; Iqbal yang menghembuskan nafas terakhir dalam kesendirian; Che yang memilih tewas untuk mengejar surga yang ia damba daripada duduk sebagai birokrat; Duchamp yang menemukan spiritualitas dalam dunia catur; drag racer yang menemukan keheningan dalam sepuluh detik kecepatan tinggi laju mobilnya; Kaczynski yang menjalani perangnya dalam upaya menjalani jalan spiritualnya; Henry Miller dan pengembaraan serta perempuan-perempuan cantiknya.

 

Kaum muslim meyakini keberadaan 25 rasul dan nabi. Aku percaya bahwa rasulku jauh lebih banyak, kadang hadir dalam peran yang sangat antagonis, tapi peran mereka semua sama. Bahwa mereka semua hanyalah contoh bagi dunia, bagi orang-orang yang cukup sensitif untuk dapat membuka diri. Mereka adalah orang-orang yang berani meniti jalan menuju mimpi dan bersedia menanggung resiko yang seringkali tak terperi demi apa yang mereka yakini.

 

Ya. Aku percaya keberadaan surga. Tapi surgaku bukanlah suatu tempat yang mana aku akan menuju. Surgaku adalah justru tempat di mana aku berjalan pulang. Aku hanya ingin pulang. Apa yang kucari dan kulakukan, dengan alkohol, dengan naskah-naskah menggelora para anarkis, dengan puisi dan teks ilmiah Marxian, dengan tubuh-tubuh perempuan cantik, adalah jejak untuk kembali berpulang. Sebagian orang berkata mereka ingin hidup seribu tahun lagi, aku justru cemas apabila aku dapat hidup seribu tahun lagi.

 

Tapi aku masih tak mampu menjawab pertanyaan perempuan tadi, tentang apakah aku percaya akan keberadaan surga. Aku hanya tak dapat menjabarkan apa yang kurasa dengan sekedar sederet kata-kata.

Posted at 08:23 pm by perangdancinta
Comments (5)  

Wednesday, November 18, 2009
Semarang, November 2009: Kata-Kata

“Hei, cowok bandel,” seorang perempuan sipit berambut lurus setengah punggung menepuk pundakku. Sang ekonom kawan lamaku dulu. Tas tangan Prada. Akhirnya ia membelinya juga. Ia bergerak mundur beberapa langkah dan berhenti. Merentangkan tangan dan tersenyum, ia bertanya, “Udah cocok jadi kayak kolektor seni belom?”

 

Aku bertanya, basa basi, “Kok bisa suamimu ngebiarin kamu keluar cuman dianter sopir gitu?”

 

“Kalo saya bilang buat ketemu kamu, pasti gigi kamu banyak yang rontok. Kalo saya bilang buat datang ke pameran seni, dia pasti curiga karna saya nggak pernah dateng ke pameran seni. Jadi saya bilang ngedadak pengen belanja. Itu hal yang biasa saya lakuin kalo suntuk. Mau berapa jam juga, nggak masalah selama toko-toko masih buka.”

 

Aku melirik arlojiku. Dua jam lagi pusat-pusat perbelanjaan akan tutup. Berarti waktuku bersamanya hanya dua jam. Aku mengangguk. Cukuplah, daripada tidak sama sekali. Aku melihat sekeliling perlahan seakan-akan aku telah mengenal semua wajah-wajah yang hadir di malam tersebut. Ia meringis dan menatapku.

 

“Aman. Kenalan-kenalan suami saya nggak ada yang doyan ke acara ginian.”

 

Aku menggamitnya ke taman dalam, di mana suasana lebih temaram karena tidak disorot langsung dengan neon-neon putih yang menyilaukan. Lagipula di taman dalam, ada meja makanan yang tersedia bagi para pengunjung yang hendak meluruskan kaki sejenak atau berbincang-bincang. Kami mengambil kursi taman yang tepat berada di bawah temaram sinar lampu taman. Sebelum pertemuan kami kembali pada acara reuni sekolah beberapa bulan lalu, kami memang tak pernah berbincang akrab. Di sini, duduk di sebelahnya, aku kembali tak pandai memilih kata-kata. Mungkin kami memang lebih tepat bertemu dan bercinta seperti yang kami lakukan sekitar empat bulan ke belakang di Jakarta. Hanya pada saat seperti itu kami tidak perlu saling bertukar pendapat dengan nada pedas.

 

Seakan tahu kesulitan kami, ia membuka pembicaraan. Berkisah soal hidupnya di Semarang, mengenai pekerjaan suaminya—profesi yang menurutku mau tidak mau akan memposisikan dirinya sebagai musuh alamiku. Tentang anak-anaknya. Tentang ketertarikannya yang intens pada dunia fesyen. Tentang kebiasaannya berbelanja. Belanja?

 

Di kota tempat tinggalku atau di mana saja di atas muka bumi ini, belanja nampaknya menjadi aktivitas waktu luang favorit. Tapi apabila apapun memang hanya dapat dinikmati sejauh uang kita mampu membelinya, maka bukankah seluruh hidup kita memang nyaris tereduksi menjadi aktivitas jual beli? Di kota-kota besar, satu persatu lahan digusur untuk dibangun jalan-jalan raya dan pusat-pusat perbelanjaan. Tentu jalan-jalan raya tersebut juga dibangun untuk mendukung aktivitas jual beli. Sebuah toko yang ditempatkan di lokasi yang sulit dicapai dari jalan raya, dapat dipastikan tak akan mampu beroperasi lama, kecuali ia menjual barang-barang yang tak dapat ditemukan di tempat lain ataupun barang ilegal yang banyak diminati. Dengan semakin berkurangnya lahan bebas, ruang-ruang nyaman yang terbuka untuk publik, pusat-pusat perbelanjaan akan menjadi satu-satunya pilihan tersisa yang terbuka bagi semua umur, semua tingkat pendapatan, semua orang.

 

Penggusuran dan alih fungsi lahan menjadi lahan produktif, berarti bahwa semua tempat, apabila dapat, harus menjadi sumber yang dapat dihitung dengan pertumbuhan angka-angka ekonomi. Berkurangnya lahan dan ekploitasi ruang-ruang bebas, menjadi petaka baru. Lily Allen, ikon pop asal London, menyadari hal ini dan bersama grup advokasinya, 4Children, berusaha mendorong pemerintah untuk menginvestasikan milyaran paun untuk membangun pusat-pusat aktivitas publik dan anak-anak muda. Sebentar. Sebentar...

 

Tapi apa benar bahwa akibat semakin berkurangnya lahan yang membuat jutaan manusia berjalan seakan tanpa jiwa ke pusat-pusat perbelanjaan di waktu luang mereka? Rasa bosan yang menghinggapi jutaan jiwa kaum urban di seluruh dunia, harus diakui juga mendorong aktivitas tersebut. Di Timur Tengah, pusat-pusat perbelanjaan mulai menjamur bersaing dengan mesjid. Di Semarang, mall-mall yang ada memang tak semegah mall Jakarta atau Singapura di mana aku dapat tersesat di dalamnya, tapi esensi mall sebagai pusat perbelanjaan dan pilihan interaksi sosial telah menancap di benak para penghuni kota ini. Bukan soal berkurangnya imajinasi ataupun ruang fisik publik yang memperkokoh belanja dari sekedar aktivitas praksis harian ke dalam sebuah fenomena hiburan massal. Tiap hari, dari televisi, billboard, media cetak, internet, kita dibanjiri citra-citra selebriti dan model mempromosikan mobil, kosmetik, sepatu, tas tangan.

 

Kita merasakan kehampaan, karenanya kita berbelanja. Walaupun hanya sekejap, berbelanja telah mampu membantu kita melupakan kehampaan yang mencekik tersebut. Fenomena abad ini adalah berbelanja sebagai sebuah aktivitas dan sensasi yang menyenangkan. Saat kita tidak berbelanja, apa aktivitas waktu luangmu?

 

Ikon-ikon ekonom intelektual seperti Milton Friedman, Alan Greenspan, Gregory Mankiw, beserta jajaran eksekutif IMF dan Bank Dunia, semua mengemban misi yang sama: untuk mendorong pertumbuhan dan konsumsi, berapapun harga yang mesti dibayar. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi paradigma sistem ekonomi mereka dibiarkan mengendalikan dunia, planet ini akan menjadi lahan-lahan yang tak layak huni dan tak dapat diperbaiki kembali.

 

Saat aku menyatakan keluhanku, ibu muda di sebelahku ini menatapku tajam. Friedman benar, ujarnya. Ia hanya tak pernah mendapatkan kesempatan yang cukup untuk membuktikan kebenaran teori-teorinya. Aku meringis dan melontarkan pertanyaan, Chili di bawah Pinochet? Itu kesempatan penuh yang pernah dimiliki Friedman dan yang terjadi hanyalah banjir darah dan mayat dari orang-orang seperti diriku. Kesetimbangan sosial itu hanya mimpi yang dikutuk untuk gagal apabila diterapkan dengan cara seperti demikian, kontrasku. Wajahnya memerah. Walau berada di bawah temaram sinar lampu di taman tersebut, aku tetap dapat merasakan wajahnya memanas.

 

Aku berhenti berkomentar. Ia duduk dan menatap lurus kepada kerumunan orang-orang di hadapan kami. “Yang Pinochet singkirin itu komunis. Mungkin dia sedikit keterlaluan, tapi niat dia udah bener, yaitu nyingkirin komunis.”

 

Entahlah, aku tidak menyukai momen-momen seperti ini. Ada kilat dingin di matanya yang indah setiap kali ia berkata seperti itu. Mungkin profesi suaminya yang melatihnya untuk menjadi seperti demikian. Aku tetap diam dan tak tahu apa yang harus diutarakan. Perlahan aku berkata, “Masalahnya nggak semua yang disingkirin di sana itu komunis.”

 

“Kalau bukan komunis, ya artinya simpatisan komunis. Apa masalahnya?”

 

Aku benar-benar tak tahu apa yang harus diungkapkan lagi pada orang-orang fanatik seperti perempuan ekonom muda ini. Aku menghirup sedikit air teh hangat di tanganku. Momen-momen di mana aku hanya dapat berinteraksi nyaman dengannya hanyalah momen-momen kala kami berhubungan seksual. Seharusnya ia tak kuhubungi saat aku hadir di kota tempat tinggalnya ini. Mungkin ia merasakan hal yang sama. Mendadak ia meremas tanganku dan berkata pelan, “Kita emang mustinya cuman ketemu di situasi yang interaksinya nggak perlu pake kata-kata ya?”

 

Aku menatapnya. Kilat dingin kini telah menguap dari mata sipitnya. Lega, aku bertanya, “Kapan ke Jakarta lagi?”

Posted at 08:32 pm by perangdancinta
Make a comment  

Seni dan Budaya: Seni Era Postmodern

Dari karya seni yang satu ke karya seni yang lain, Triyadi Guntur Wiratmo, Arief Tousiga, Agus Sumiantara dan beberapa seniman-seniman muda Indonesia lain, memberikan hormat pada seniman-seniman ternama kelas internasional, antara lain Marchel Duchamp dan Andy Warhol. Di ArtSingapore 2009, segerombolan mahasiswi universitas seni rupa mengerubuti karya apropriasi dari Brillo Box Andy Warhol—“Warhol, isn’t it? We really love his,” ujar mereka. Kecintaan mereka, sebagai pelaku aktif dalam dunia seni rupa, terhadap Duchamp dan Warhol, tampak di hadapanku sebagai sebuah kontradiksi yang miris.

 

Pembantaian lebih dari 15 orang tentara dalam Perang Dunia I, mendorong sebuah gelombang nihilistik di tengah masyarakat di mana perang berkecamuk. Hal tersebut juga memprovokasi gerakan anti-seni yang kemudian dikenal sebagai Dada, di mana para anggota gerakan tersebut percaya bahwa modernisasi dan mekanisasilah yang membuat tingginya angka kematian yang diakibatkan oleh perang menjadi sesuatu yang dapat terjadi. Respon mereka adalah dengan membuat sebuah tipe seni yang anti-rasional, anti-borjuis, anti-teknologi, yang merengkuh absurditas, intuisi, paradoks dan konsep bermain. Para Dadais memproduksi aksi, performance, teks-teks yang penuh berisi huruf-huruf acak yang tak ada artinya serta berbagai instalasi dari barang-barang yang sebelumnya tak pernah digunakan sebagai bagian dari medium berkesenian. Seluruhnya menantang nilai-nilai mapan di dunia seni. Seluruhnya mengekspresikan filsafat nihilistik.

 

Marchel Duchamp, adalah salah satu tokoh Dada yang gaung dari karyanya masih terus bergema hingga kini. Salah satu pelopor seni konseptual, kinetik, Duchamp membuat karya terakhirnya di atas kanvas berjudul Tu m’ pada 1918. Pada 1923, ia menyelesaikan apa yang tampaknya sebagai karya seni mixed media, dengan judul The Bride Stripped Bare by Her Bachelors, Even. Tapi tetap, karyanya yang paling fenomenal dan dikenal hingga kini adalah Fountain—sebuah toilet berdiri yang ia produksi sebagai sebuah pelecehan terhadap seni. Apapun dapat dianggap sebagai sebuah karya seni apabila ia dihadirkan di sebuah galeri seni, begitu pernyataannya, termasuk toilet. Ada sebuah kebenaran dalam sikap nihilistiknya. Muak dengan ketiadaan harapan dalam produksi seni, ia meninggalkan dunia seni dan merengkuh dunia catur. Ia menjadi seorang pecatur tangguh, seorang jurnalis dunia catur dan komposer bagi berbagai strategi. “Catur,” ujarnya, “jauh lebih murni daripada seni.”

 

Beberapa tahun setelahnya, Perang Dunia II mengguncang dunia. Perang yang lebih kejam daripada perang dunia sebelumnya, yang diakhiri secara tragis dengan dijatuhkannya bom atom pertama—sesuatu yang membuka era baru dalam perang, senjata nuklir; yang membuat Einstein meratapi penemuan teorinya. Pasca PD II, dunia juga diserbu oleh ekonomi pasca perang. Konsumerisme digenjot, alam komoditi diperlebar dan dibiarkan lepas tanpa kontrol—lagipula siapa yang dapat mengontrol komodifikasi?

 

Dianggap sebagai turunan kreatif Marchel Duchamp, Andy Warhol membuka tabir moral dan intelektual di jantung konsumerisme budaya Amerika. Pencitraan repetitif dari karya-karyanya merefleksikan efek yang menumpulkan intuisi akibat iklan dan konsumerisme, sebagaimana bombardir citra melalui media massa. Ia menggunakan teknik repetisi untuk menggambarkan kaleng sup Campbell, kursi listrik, bintang pop, kerusuhan ras, tabrakan otomobil, hingga wajah Mao—mendemonstrasikan bahwa apapun dapat direproduksi dan dikomodifikasi. Di saat yang sama ia menegaskan bahwa tak ada lagi nada moral ataupun emosional. Segalanya hanya komoditi. Kini, Damien Hirst, kembali menegaskan hal tersebut. Tak ada moral, tak ada emosi, dunia ini tak punya lagi nilai selain nilai komoditi.

 

Tapi mungkin memang seperti yang diungkapkan oleh Lie Chen padaku beberapa saat lalu, bahwa inilah dunia saat ini, apabila seseorang mencari arti tentang hidup ini, maka inilah satu-satunya arti yang tersisa dan diamini secara massal. Mungkin ini juga yang berusaha diungkapkan oleh Dian Mahendra, sang dosen estetika kepada murid-muridnya. Mungkin ini juga yang diutarakan dengan nada sedih oleh seorang jurnalis asal Italia mengenai dekadensi keluarga-keluarga mafia abad ini, “In this time, a man of honour become a man of entepreneur.

Posted at 08:31 pm by perangdancinta
Make a comment  

Next Page

Utsukushisa To Kanashimi To



“Melancholy is sadness that has taken on lightness.”
-Italo Calvino

"People living deeply have no fear of death."
-Anais Nin

"The only antidote to mental suffering is physical pain."
-Karl Marx




Dedicated for Ms.Ishtar, my northern star


No real name down here, please!
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

I could feel at the time
there was no way of knowing
Fallen leaves in the night
who can say where they’re blowin’
As free as the wind
hopefully learnin’
As the sea at the tide
has no way of turnin’
More than this
you know there’s nothin’
More than this
tell me one thing
More than this
there’s nothin’



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed